Special Plan: Blokade Selat Hormuz Bikin Ekonomi Dunia Tekor Rp1.000 Triliun

Blokade Selat Hormuz Picu Kerugian Ekonomi Global Rp1.000 Triliun

Krisis Pasokan Minyak Mengguncang Pasar Global

Krisis di Selat Hormuz berdampak besar pada alur pasokan minyak dunia, mengakibatkan kerugian ekonomi hingga 50 miliar euro atau setara Rp1.000 triliun. Angka ini dihitung berdasarkan asumsi kurs Rp20.190 per euro. Gangguan distribusi energi skala besar menyebabkan defisit fisik minyak global, menurut laporan Kpler, penyedia layanan analisis komoditas. Dalam dua bulan terakhir, pasar kehilangan lebih dari 500 juta barel minyak.

“Ekonomi global mengalami kerugian akibat keterputuran pasokan minyak senilai lebih dari 50 miliar euro,” tulis laporan tersebut, dikutip dari RIA Novosti, Jumat (24/4).

Kondisi Pasar Terbalik dari Proyeksi Awal IEA

Badan Energi Internasional (IEA) sempat memprediksi surplus pasokan minyak pada 2026. Namun, blokade Selat Hormuz justru mengubah skenario tersebut menjadi defisit terbesar sepanjang sejarah modern. Gangguan logistik energi pun mengakibatkan penurunan volume transit minyak dari sekitar 20 juta barel per hari menjadi hanya 500 ribu barel. Selama krisis, cadangan minyak global berkurang hampir 45 juta barel.

Produksi Negara-Negara Teluk Turun Drastis

Banyak negara di Teluk mengalami penurunan produksi minyak akibat hambatan distribusi dan kerusakan infrastruktur. Produksi Arab Saudi berkurang 23 persen, sementara Irak memangkas kapasitas hingga dua pertiga. Kuwait dan Uni Emirat Arab juga menurunkan produksi separuhnya. Bahkan, Qatar mengalami penurunan hampir 80 persen, produksi minyak dan kondensat hanya 370 ribu barel per hari. QatarEnergy juga menghentikan ekspor gas alam cair (LNG) dan menyatakan force majeure atas kontrak jangka panjang.

Asia Terdampak Tertinggi karena Ketergantungan pada Ekspor Hormuz

Negara-negara Asia menjadi pihak yang paling terkena akibat krisis ini. Sebelumnya, 84 persen minyak mentah dan 83 persen LNG dari Selat Hormuz dikirim ke kawasan tersebut. Untuk mengatasi kekurangan pasokan, beberapa negara meningkatkan impor dari Rusia. Ekspor minyak Rusia ke India melonjak hampir dua kali lipat, mencapai hampir 2 juta barel per hari pada Maret. Thailand, Indonesia, Vietnam, dan Sri Lanka juga mulai menggunakan cadangan strategis serta menjajaki kesepakatan baru.

Krisis Memicu Lonjakan Harga Energi di Eropa

Di Eropa, harga gas melonjak hingga lebih dari US$600 per 1.000 meter kubik pada Maret, naik sekitar 50 persen. Komisi Eropa memperkirakan biaya tambahan akibat krisis mencapai 24 miliar euro, atau sekitar 500 juta euro per hari. Sebagai respons, Uni Eropa meningkatkan impor LNG dari Rusia, mencapai 5 juta ton, naik 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Rusia dan Iran Mengambil Manfaat dari Situasi

Rusia menjadi salah satu pihak yang diuntungkan dari blokade. Pendapatan ekspor minyak negara itu meningkat menjadi US$19,04 miliar pada Maret, menurut IEA. Di sisi lain, Iran memanfaatkan kontrol atas Selat Hormuz. Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengungkapkan pendapatan dari tarif transit kapal telah masuk ke rekening bank sentral. “Selat Hormuz dianggap sebagai milik Iran, dan semua kapal yang melintas harus membayar biaya dalam rial,” ujarnya, dilansir Tasnim News, Kamis (23/4).

Lebih lanjut, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyita dua kapal yang melanggar aturan pelayaran. “Jumlah kapal yang disita bisa bertambah jika diperlukan,” tambah otoritas militer Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *