Topics Covered: AS Habiskan Ribuan Rudal di Iran, Nasib Taiwan Kini Dipertaruhkan
AS Habiskan Ribuan Rudal di Iran, Nasib Taiwan Kini Dipertaruhkan
Perang antara Amerika Serikat dan Iran semakin menguras persediaan senjata penting militer AS, menimbulkan risiko terhadap kemampuan negara tersebut dalam menghadapi skenario konflik di Taiwan. Pasca 39 hari serangan udara dan rudal dalam operasi “Epic Fury” sebelum gencatan senjata, jumlah amunisi yang digunakan mencapai ribuan unit, termasuk senjata presisi yang mahal dan terbatas. Analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan, konsumsi ini mulai mengurangi kapasitas AS untuk menjaga kesiapan di Pasifik Barat.
Penggunaan Rudal AS dalam Operasi “Epic Fury”
CSIS mencatat, lebih dari 1.000 rudal Tomahawk telah dikeluarkan dari stok awal 3.100 unit. Rudal ini, yang bisa diluncurkan dari laut, digunakan untuk menyerang target darat secara akurat. Selain itu, sistem pertahanan udara seperti Patriot dan THAAD juga terpicu, dengan estimasi penggunaan mencapai 1.060 hingga 1.430 unit Patriot dan 190 hingga 290 unit THAAD dari stok masing-masing 2.330 dan 360 unit.
“Perang Iran telah menguras begitu banyak amunisi sehingga Washington mungkin tidak bisa sepenuhnya menjalankan rencana kontingensi untuk mempertahankan Taiwan jika konflik terjadi dalam waktu dekat,” kata sejumlah pejabat AS, seperti yang dilaporkan The Wall Street Journal.
Kesiapan AS Menghadapi Konflik di Taiwan
Kesiapan AS dalam menghadapi invasi China ke Taiwan semakin terganggu, terutama karena kehabisan stok rudal. CSIS memperkirakan penggantian amunisi tersebut membutuhkan waktu hingga enam tahun. Meski demikian, intelijen AS pada Maret 2026 menilai Beijing belum memiliki jadwal tetap untuk mengambil tindakan terhadap Taiwan, dan tidak akan meluncurkan perang pada 2027.
Produksi Rudal dan Persediaan Pasca Perang
Rudal seperti Patriot, Tomahawk, JASSM, SM-3 IIA, dan SM-6 tidak bisa diproduksi secara cepat. Menurut CSIS, waktu pengiriman penuh untuk amunisi kunci bisa mencapai puluhan bulan. Contohnya, produksi Tomahawk memakan waktu 47 bulan, sedangkan SM-3 IIA bisa sampai 64 bulan. Hal ini mengindikasikan, tambahan anggaran pertahanan tidak langsung memperkuat pasokan rudal AS.
Kekhawatiran Terhadap Kesiapan di Pasifik
Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa China, sebagai lawan yang lebih kuat, bisa mempercepat invasi jika AS tidak memiliki stok rudal yang cukup. Beijing memiliki kekuatan militer jauh lebih besar, termasuk rudal balistik, drone, armada laut, dan kemampuan anti-access area denial (A2/AD) untuk membatasi pergerakan pasukan AS di sekitar Taiwan. Dengan demikian, kehabisan amunisi di Timur Tengah bisa meningkatkan tekanan terhadap kesiapan AS di Pasifik.