Latest Program: Indef: Insentif EV untuk redam risiko fiskal lonjakan harga minyak

Indef: Insentif EV untuk redam risiko fiskal lonjakan harga minyak

Jakarta, 2025 – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan bahwa pemerintah Indonesia sebaiknya memperpanjang insentif untuk kendaraan listrik (EV) sebagai upaya mengurangi tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, mengungkapkan bahwa tanpa adanya stimulus tambahan, risiko perlambatan adopsi EV bisa terjadi, terutama di kalangan konsumen menengah.

“Kehilangan momentum adopsi kendaraan listrik, terutama di segmen kelas menengah, sangat mungkin terjadi jika insentif tidak diperpanjang,” katanya dalam pernyataan di Jakarta, Kamis.

Data terbaru menunjukkan bahwa selama Januari hingga November 2025, sekitar 82 ribu unit EV terjual, mencapai 11-12 persen dari total pasar otomotif nasional. Kenaikan ini didorong oleh berbagai kebijakan insentif yang diberikan pemerintah. Namun, kondisi geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mempertahankan harga minyak global di atas 100 dolar AS per barel, menurut Rizal.

Pengaruh Kenaikan Harga Minyak

Kenaikan harga minyak berpotensi memperberat beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Alokasi subsidi energi untuk tahun tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp210 triliun. Angka ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak, di mana kenaikan 1 dolar AS per barel bisa menambah beban fiskal hingga Rp6-7 triliun.

Dengan demikian, jika harga minyak naik 10 dolar AS per barel, beban subsidi energi bisa meningkat 60-70 triliun rupiah. “Insentif kendaraan listrik tetap dibutuhkan, tidak hanya untuk menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga sebagai strategi jangka menengah untuk mengurangi tekanan fiskal dan ketergantungan pada impor bahan bakar,” tambahnya.

Simulasi Transisi Energi

Dalam simulasi transisi energi, penggantian 1 juta kendaraan konvensional dengan EV diharapkan bisa menghemat 13 juta barel minyak per tahun. Ini dianggap sebagai angka yang signifikan dan langsung berdampak pada keseimbangan energi nasional.

Keberlanjutan Insentif

Rizal menegaskan bahwa kelanjutan insentif EV sangat penting bagi keberhasilan transisi energi di sektor transportasi. Kebijakan ini juga menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian global. “Tanpa insentif yang stabil, risiko ketergantungan pada subsidi dan impor bahan bakar akan meningkat,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *