New Policy: Produksi Batu Bara PTBA Naik 9% di 2025 Jadi 47,2 Juta Ton
Produksi Batu Bara PTBA Tumbuh 9% pada Tahun 2025
Dalam tahun 2025, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencapai kinerja operasional yang stabil, dengan peningkatan produksi batu bara sebesar 9% hingga mencapai 47,2 juta ton. Peningkatan ini terjadi meski harga batu bara global mengalami penurunan signifikan. Selain itu, volume penjualan perusahaan juga mengalami kenaikan 6% menjadi 45,4 juta ton, sementara angkutan batu bara meningkat sejalan dengan itu, sebesar 6% dari 38,2 juta ton ke 40,4 juta ton.
Ketenagakerjaan dan Pemulihan Keuangan
Kinerja positif di sektor produksi serta penjualan menunjukkan kemampuan PTBA dalam menjaga ketersediaan energi, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor. Perusahaan tetap menjadi penggerak utama kebutuhan energi nasional, dengan 54% dari total penjualan dialokasikan untuk pasar domestik. Di sisi internasional, PTBA terus mengembangkan pasar baru, termasuk Eropa, dengan sukses memasuki Spanyol dan Rumania.
“Tahun 2025 adalah bukti ketahanan operasional kami, meski harga jual batu bara mengalami koreksi akibat penurunan indeks Newcastle sebesar 22%,” ungkap Direktur Utama PTBA Arsal Ismail dalam keterangan tertulis, Rabu (2/4/2026). Ia menambahkan, PTBA berhasil menjawab tantangan tersebut melalui efisiensi operasional dan ekspansi pangsa pasar global.
Di tengah ketidakstabilan pasar internasional, PTBA tetap menunjukkan performa keuangan yang sehat. Laba bersih mencapai Rp2,93 triliun, sementara EBITDA mencapai Rp6,08 triliun sepanjang tahun 2025. Arus kas operasi meningkat 24% menjadi Rp6,26 triliun, menandai pemulihan yang menjanjikan. Pertumbuhan aset mencapai Rp43,92 triliun, didorong oleh investasi infrastruktur jangka panjang.
Dalam tahun 2026, PTBA menyambut baik persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tanpa pengurangan volume produksi. Perusahaan menargetkan produksi dan penjualan sebesar 49,5 juta ton. Strategi cost leadership, seperti selective mining dan optimasi rantai pasok, akan terus ditingkatkan untuk menjaga daya saing. Arsal menggarisbawahi bahwa fokus pada efisiensi dan pertumbuhan berkelanjutan, sambil memenuhi standar tata kelola perusahaan, akan memastikan kinerja positif yang berkelanjutan.