Main Agenda: Dirut Pupuk Indonesia pastikan bahan baku aman meski gejolak Timteng

Dirut Pupuk Indonesia Pastikan Ketersediaan Bahan Baku Stabil Meski Gejolak Timur Tengah

Jakarta – Selama ini, pemimpin perusahaan Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa pasokan bahan baku pupuk nasional tetap terjaga meski terjadi kenaikan ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. “Kita memiliki dana muka dari pemerintah, sehingga dapat memastikan pembelian bahan bakunya secara awal,” ujarnya setelah rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis. Ia menjelaskan bahwa harga bahan baku dalam negeri ditentukan pemerintah dan tidak mengalami perubahan signifikan, menjaga stabilitas produksi secara keseluruhan.

“Karena kan kita punya uang muka dari pemerintah, jadi kita bisa beli bahan bakunya di depan, itu yang impor. Yang dalam negeri kan harganya ditetapkan pemerintah enggak berubah, jadi semuanya terkendali,” kata Rahmad ditemui usai rapat.

Perusahaan juga berupaya meningkatkan efisiensi distribusi pupuk dengan menerapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 113 Tahun 2025. Kebijakan ini mengubah cara penagihan subsidi menjadi lebih transparan dan akuntabel, dengan pembayaran sebagian dilakukan sebelum bahan baku diterima. Rahmad menegaskan bahwa perubahan ini memungkinkan proses pengadaan bahan baku berjalan lebih cepat, sehingga pasokan pupuk dapat terjamin.

Diversifikasi sumber bahan baku menjadi strategi utama Pupuk Indonesia untuk menghadapi risiko gangguan logistik. Perusahaan mengimpor fosfat (P) dan kalium (K) dari negara-negara Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair, serta Kanada dan Laos yang terletak di luar zona konflik. Untuk sulfur (S), pihaknya mengandalkan pasokan alternatif dari Kanada dan Kazakhstan, sementara asam sulfat dapat dipenuhi dari sumber dalam negeri.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, mengungkapkan bahwa kapasitas produksi perusahaan mencapai 14,8 juta ton per tahun, mencakup berbagai jenis pupuk. Produksi pupuk urea bahkan mampu memenuhi kebutuhan nasional secara penuh. “Ketersediaan bahan baku utama, yaitu gas bumi, diatur pemerintah, sehingga distribusinya tetap terjamin,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, konflik di Selat Hormuz tidak berdampak langsung pada pasokan urea nasional. Pupuk Indonesia juga mengklaim sebagai produsen pupuk urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Langkah mitigasi ini memastikan kebutuhan petani tetap terpenuhi, meski situasi global mengalami fluktuasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *