Latest Program: Update Perang Timteng, Ancaman Baru di Irak-Harga Minyak Menggila

Kontroversi Perang di Timur Tengah Semakin Memanas

Dalam beberapa hari terakhir, eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah terus meningkat, dengan keberlangsungan operasi militer, ancaman antarnegara, serta keterlibatan kelompok bersenjat yang mengubah skenario perang menjadi lebih rumit dan meluas. Ketegangan ini juga mulai menggoyang pasar global, khususnya terkait ketakutan terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan strategis seperti Selat Hormuz.

Kenaikan Harga Minyak Akibat Ketegangan Global

Ketegangan geopolitik memicu lonjakan harga minyak dunia, yang terlihat dari kenaikan signifikan harga minyak mentah. Harga Brent mencapai US$108,15 per barel, atau sekitar Rp1,73 juta, sementara WTI melonjak lebih dari 6% ke level US$106,75 per barel, atau sekitar Rp1,71 juta. Kenaikan ini disebabkan oleh kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan penghentian pasokan global, terutama akibat ancaman penutupan Selat Hormuz.

Reaksi Internasional terhadap Konflik

Kedutaan Besar AS mengeluarkan peringatan tentang ancaman serangan dari kelompok milisi pro-Iran di Irak, menyatakan bahwa milisi tersebut mungkin mengarahkan serangan ke pusat Baghdad dalam 24-48 jam mendatang. Dutaan juga meminta warga negaranya segera meninggalkan wilayah Irak.

Pemerintah Tiongkok Tegaskan Akar Perang

“Akar penyebab gangguan navigasi melalui Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal AS dan Israel terhadap Iran,” ujar Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, dalam konferensi pers, seperti dilansir AFP.

Mao Ning juga menekankan bahwa pendekatan militer tidak akan menyelesaikan konflik secara mendasar. “Pihak-pihak terkait harus segera menghentikan operasi militer,” katanya.

Konflik Iran Menggugah Kekhawatiran Global

Sementara itu, Iran berjanji akan melancarkan serangan besar terhadap AS dan Israel, sebagai respons terhadap ancaman dari Presiden Donald Trump. Komando Operasional Khatam Al-Anbiya mengatakan, “Perang ini akan berlanjut hingga penghinaan, aib, penyesalan permanen, dan penyerahan diri Anda.”

Kelompok Hizbullah di Lebanon melaporkan telah meluncurkan drone dan roket ke wilayah utara Israel, menargetkan pasukan militer dan desa. Meski sirene serangan udara diaktifkan di wilayah perbatasan, tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan. Israel mengklaim bahwa serangan tersebut berhasil diatasi.

Pidato Trump dan Respon dari Negara-Negara Teluk

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa AS hampir mencapai kemenangan dalam konflik tersebut dan akan melanjutkan serangan dalam beberapa minggu ke depan. “Kita sudah sangat dekat,” ujarnya.

Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan sistem pertahanan udaranya telah merespons serangan rudal dan drone dari Iran, menjelaskan bahwa negara-negara Teluk termasuk UEA menjadi sasaran utama serangan balasan.

Australia Soroti Ketidakjelasan Tujuan Operasi Militer

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menilai tujuan awal operasi militer di Iran telah tercapai, namun arah selanjutnya masih tidak terbaca. “Sekarang tujuan-tujuan itu telah terwujud, tidak jelas apa lagi yang perlu dicapai atau seperti apa titik akhirnya,” kata Albanese dalam pidato di Canberra.

Iran Tolak Tuntutan AS dan Bantah Negosiasi Langsung

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa tuntutan Washington tidak logis dan Iran membantah adanya negosiasi langsung terkait gencatan senjata. “Pesan telah diterima melalui perantara, termasuk Pakistan, tetapi tidak ada negosiasi langsung dengan AS,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *