Topics Covered: Trump Ancam Serang Iran Tanpa Ampun, Satu Dunia Teriak

Trump Beri Ancaman Serius terhadap Iran, Global Gelisah

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu reaksi internasional dengan mengancam akan menyerang Iran secara lebih intens dalam 2-3 minggu mendatang. Dalam pidato di Gedung Putih, Rabu (1/4), Trump menegaskan komitmen AS untuk bertindak tegas, bahkan menyatakan keinginan untuk mengembalikan Iran ke masa prasejarah. Ancaman ini langsung menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia.

Iran membalas dengan sikap keras. Negara itu menolak menyerah pada syarat Washington dan langsung mengambil tindakan dengan menyerang Israel menggunakan rudal. Ketegangan antara AS dan Iran semakin memanas, mengkhawatirkan dampak terhadap harga minyak yang kian melonjak.

Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak global, menjadi pusat perhatian. Jalur tersebut biasanya dilalui sekitar 20% dari total konsumsi minyak dunia, namun kini terancam tertutup akibat konflik. Puluhan negara berupaya memulihkan pengiriman energi melalui selat itu pada Kamis (2/4).

Iran Susun Protokol Bersama Oman untuk Memantau Navigasi

Iran mengumumkan rencana kerja sama dengan Oman dalam membuat protokol pemantauan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui kantor berita IRNA, menjelaskan bahwa protokol ini bertujuan mengamankan jalur tanpa menghambat arus perdagangan.

“Protokol ini dirancang untuk memastikan navigasi aman serta memberikan layanan optimal kepada kapal-kapal yang melewati jalur ini, bukan sebagai pembatasan,” kata Gharibabadi.

Trump juga mengisyaratkan bahwa konflik bisa memuncak jika Iran tidak memenuhi syarat Washington. Ia menekankan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, termasuk fasilitas produksi minyak. Trump meminta negara-negara bergantung pada pengiriman bahan bakar melalui Selat Hormuz untuk segera mengambil langkah.

Beberapa negara Eropa dan lainnya menolak kecuali ada gencatan senjata. Inggris memimpin pertemuan virtual dengan sekitar 40 negara untuk meninjau strategi pemulihan navigasi. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa dialog diplomatik dan ekonomi menjadi kunci.

Konflik Timur Tengah Semakin Memanas

Sejak 28 Februari, lebih dari seribu korban tewas di wilayah Timur Tengah. Serangan udara AS dan Israel terhadap Iran memicu balasan dari Iran, yang melibatkan pangkalan militer AS, negara-negara Teluk, dan menciptakan front baru di Lebanon. Garda Revolusi Iran menargetkan fasilitas baja dan aluminium milik AS di wilayah tersebut.

Rusia menyarankan AS dan Israel berhenti menembak agar para pekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr bisa keluar. Sementara Israel melaporkan serangan rudal baru pada Kamis (2/4), Arab Saudi dan Abu Dhabi mengklaim menangkap drone serta rudal dengan kerusakan minimal di zona ekonomi.

Kedutaan Besar AS di Baghdad memperingatkan warga Irak untuk segera berpindah, mengkhawatirkan serangan milisi Iran dalam 24-48 jam. Kekurangan bahan bakar mulai membebani ekonomi Asia dan dianggap akan menyebabkan dampak serupa di Eropa.

Kenaikan Harga Minyak dan Dampak Ekonomi Global

Naiknya harga minyak mentah Brent sekitar 7% menjadi US$108 per barel mencerminkan ketidakpastian pasar. Imbal hasil obligasi AS juga meningkat, sementara pasar ekuitas global mengalami kerugian. Analis Russel Chesler dari VanEck Australia mengatakan, pertanyaan utama investor saat ini adalah “Kapan konflik ini berakhir?”

Dua lembaga PBB memperingatkan perlambatan ekonomi bisa memicu krisis biaya hidup di Afrika. Situasi ini menegaskan betapa kritisnya keadaan geopolitik saat ini bagi stabilitas ekonomi global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *