Ancaman Eskalasi Perang Memanas – Harga Minyak Sentuh US$111 per Barel

Ancaman Eskalasi Perang Memanas, Harga Minyak Sentuh US$111 per Barel

Kamis (2/4), harga minyak global mengalami kenaikan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana peningkatan konflik dengan Iran. Dilaporkan Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup dengan kenaikan US$7,87 atau 7,78 persen, mencapai US$109,03 per barel. Sementara itu, minyak WTI naik US$11,42 atau 11,41 persen, mencapai level US$111,54 per barel, yang menjadi kenaikan harian terbesar sejak 2020.

Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi, terutama setelah situasi di Timur Tengah semakin memanas. Trump menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran akan ditingkatkan dalam beberapa minggu mendatang. Tindakan ini bisa memperpanjang kekacauan distribusi energi melalui Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi sasaran respons Iran terhadap serangan AS dan Israel sejak akhir Februari.

“Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan,” kata Trump. “Kami akan mengembalikan mereka ke kondisi yang sangat terpuruk,” tambahnya.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi global utama, melalui wilayah tersebut melewati sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Pelaku pasar kini mengawasi risiko kerusakan infrastruktur energi Iran yang bisa memperpanjang gangguan pasokan. “Pertanyaan utama pelaku pasar saat ini adalah apakah infrastruktur minyak Iran berisiko terdampak, dan jika kerusakan meluas, pemulihan aliran minyak di kawasan ini kemungkinan akan semakin tertunda,” ujar Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial.

Banyak analis memprediksi bahwa premi risiko harga minyak bisa turun jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat. “Ekspektasi pasar adalah jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam beberapa minggu, maka premi risiko ini akan langsung turun,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital.

Beberapa lembaga keuangan menilai harga minyak masih memiliki potensi untuk melonjak. Citi memproyeksikan harga Brent rata-rata berada di US$95 per barel pada skenario dasar, dan bisa mencapai US$130 pada skenario optimistis di paruh kedua tahun ini. JP Morgan memperkirakan harga minyak berada di kisaran US$120 hingga US$130 dalam waktu dekat, bahkan berpotensi melesat ke US$150 per barel jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga pertengahan Mei.

Ketidakpastian pasokan energi global juga dipicu oleh gangguan produksi di Rusia akibat serangan terhadap infrastruktur energi, serta meningkatnya risiko ekonomi kawasan Eropa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *