Special Plan: Lebih dari 100 Pakar AS Kritik Serangan ke Iran, Singgung War Crime
Lebih Dari Seratus Ahli Hukum Internasional AS Mengkritik Serangan Militer ke Iran, Menyoroti Potensi Kejahatan Perang
Para Ahli Memperingatkan Risiko Pelanggaran Hukum Internasional
Sejumlah besar pakar hukum internasional di Amerika Serikat, lebih dari 100 orang, mengungkapkan kekhawatiran serius mengenai kemungkinan klasifikasi serangan militer AS ke Iran sebagai kejahatan perang. Menurut laporan Reuters, para ahli ini berasal dari berbagai institusi pendidikan ternama seperti Harvard, Yale, Stanford, dan University of California. Mereka menandatangani surat terbuka yang diterbitkan melalui jurnal kebijakan Just Security, menyoroti tindakan AS dan retorika pejabat tinggi negara tersebut.
Attacks on Civilian Infrastructure Mengundang Perdebatan
Dalam surat terbuka, para ahli menyatakan bahwa tindakan militer dan ucapan pemerintah AS berpotensi melanggar hukum hak asasi manusia serta hukum humaniter internasional. Mereka khusus menyoroti serangan-serangan yang mengenai fasilitas sipil, termasuk sekolah, layanan kesehatan, dan permukiman penduduk. Salah satu peristiwa yang disebut sebagai contoh adalah serangan terhadap sekolah Iran pada hari pertama konflik.
“Serangan yang menyasar fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan permukiman warga memicu kekhawatiran serius mengenai pelanggaran hukum internasional,” tulis para ahli dalam dokumen tersebut.
Komentar Trump dan Pentagon Memicu Kritik
Kekhawatiran juga meningkat karena pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dianggap provokatif. Dalam pidato televisi Rabu (1/4), Trump menegaskan rencana untuk meningkatkan serangan terhadap Iran, termasuk menargetkan infrastruktur energi. “Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Kami akan membawa mereka kembali ke zaman batu,” ujarnya.
Sebelumnya, Trump menyebut kemungkinan serangan di Iran pada pertengahan Maret sebagai “hanya untuk bersenang-senang”. Di sisi lain, pejabat Pentagon menyatakan AS tidak berperang dengan “aturan keterlibatan yang bodoh”, memicu reaksi dari kelompok advokasi Muslim di AS yang menganggap retorika tersebut bersifat tidak manusiawi.
Konflik Berlanjut, Korban Meningkat
Konflik antara AS, Israel, dan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari, dengan eskalasi terus terjadi. Serangan gabungan AS dan Israel ke Iran, serta serangan balasan Iran terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS, dikabarkan telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi.