Meeting Results: IEA dukung efisiensi energi di tengah krisis global

IEA dukung efisiensi energi di tengah krisis global

Dalam rangka menghadapi tekanan energi global yang semakin meningkat, Badan Energi Internasional (IEA) memberikan dukungan terhadap upaya penghematan penggunaan energi oleh masyarakat. Langkah-langkah ini dianggap penting untuk menjaga ketersediaan pasokan energi di tengah ketidakstabilan geopolitik akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran. IEA menekankan bahwa penghematan energi bukanlah tentang perubahan besar yang rumit, tetapi kebiasaan kecil yang rutin dilakukan.

Beberapa kebiasaan efektif yang disarankan meliputi: mematikan pendingin udara saat tidak digunakan, menutup rapat pintu dan jendela saat menyalakan AC, serta memanfaatkan tirai tebal untuk menjaga suhu ruangan tetap optimal. Selain itu, penggunaan lampu LED sebagai pengganti lampu tradisional, serta pengaturan suhu air panas sesuai kebutuhan, dianggap dapat mengurangi konsumsi energi secara signifikan. Dalam konteks transportasi, IEA menyarankan pengemudi untuk berjalan stabil, menghindari kecepatan tinggi, dan mengurangi akselerasi tiba-tiba agar bahan bakar lebih tahan lama.

“Efisiensi energi bukanlah tentang perubahan besar yang sulit dilakukan, tetapi kebiasaan kecil yang rutin dilakukan,” tulis IEA dalam laman resminya.

Dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) serta mendorong kebijakan kerja dari rumah (WFH) sebagai langkah antisipasi. Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga menambahkan saran untuk masyarakat untuk mulai mengadopsi gaya hidup hemat energi, baik di lingkungan rumah maupun tempat kerja. Selain itu, penggunaan transportasi umum, sepeda, atau berjalan kaki diutamakan untuk aktivitas sehari-hari.

Banyak negara lain telah mengambil langkah serupa untuk merespons ketidakpastian internasional. Thailand, misalnya, mewajibkan pegawai negeri bekerja dari rumah, membatasi penggunaan lift dan eskalator, serta menetapkan suhu ruangan antara 26–27 derajat Celsius. Filipina menerapkan sistem kerja empat hari per minggu di sektor publik, sementara Pakistan memperkenalkan pembelajaran jarak jauh dan kerja dari rumah sebagai upaya penghematan energi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *