New Policy: Hutama Karya terbuka untuk penggunaan Aspal Buton
Hutama Karya terbuka untuk penggunaan Aspal Buton
Jakarta – Perusahaan PT Hutama Karya (Persero) menyatakan siap menerapkan Aspal Buton dalam berbagai proyek pembangunan. Menurut Hamdani, Plt. Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, penggunaan bahan aspal lokal ini menjadi pilihan yang sangat layak untuk mengurangi ketergantungan pada aspal impor.
“Keseluruhannya, Hutama Karya sangat terbuka terhadap penggunaan Asbuton di berbagai proyek. Kalau spesifikasi Asbuton memenuhi standar, kami siap menerapkan,” terang Hamdani dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) beberapa waktu lalu memfasilitasi penggunaan Asbuton. Hamdani menjelaskan bahwa meskipun penggunaannya masih terbatas, pihaknya telah bekerja sama dengan PU untuk mendorong pemanfaatan bahan lokal ini.
Aspal Buton, yang merupakan sumber daya alam Indonesia, memiliki kualitas diakui secara internasional. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, penggunaannya hanya sekitar 4% dari total kebutuhan nasional.
Kebanyakan aspal yang diimpor berasal dari minyak bumi. Ketidakstabilan pasokan dan kenaikan harga global akibat konflik mengakibatkan biaya aspal meningkat, yang berdampak langsung pada anggaran proyek pembangunan jalan. Hal ini menjadikan ketergantungan pada aspal luar negeri sebagai faktor risiko yang perlu diperbaiki.
Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum, menginisiasi kebijakan untuk meningkatkan penggunaan Asbuton sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan infrastruktur nasional. “Dengan arahan Presiden Prabowo, kita tidak boleh sepenuhnya bergantung pada sumber daya luar, terlebih di tengah ketidakpastian situasi global,” kata Dody.
Di 2024, kebutuhan aspal nasional diperkirakan mencapai 1,056 juta ton, dengan proyeksi meningkat menjadi 1,5 juta ton per tahun. Untuk mengurangi ketergantungan impor, pihaknya mendorong kebijakan wajib penggunaan Asbuton dengan target substitusi minimal 30% (A30) dalam campuran beraspal.
Kebijakan ini diharapkan mampu menurunkan ketergantungan terhadap aspal impor hingga sekitar 50%. Selain itu, substitusi Asbuton menjadi langkah mitigasi terhadap kenaikan harga global akibat gejolak energi. Dody menyebutkan bahwa implementasi kebijakan ini juga akan menghemat devisa hingga Rp4,08 triliun per tahun, meningkatkan pendapatan pajak sebesar Rp1,6 triliun, serta mendorong pengembangan industri dalam negeri melalui pemenuhan SNI dan TKDN minimal 40%.