20 Perusahaan Senjata dengan Pendapatan Terbesar di Dunia – Ada China
20 Perusahaan Senjata dengan Pendapatan Terbesar di Dunia, Ada China
Industri pertahanan global tengah mengalami peningkatan pesat, terutama akibat semakin intensnya konflik geopolitik dan peningkatan anggaran militer di berbagai negara. Angka terbaru menunjukkan keuntungan besar yang diraih oleh perusahaan-perusahaan senjata utama, di mana AS tetap menduduki posisi dominan. Berdasarkan data SIPRI, total pendapatan 100 perusahaan senjata terbesar mencapai US$679 miliar atau setara Rp 11,536 triliun pada 2024, meningkat sekitar 6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut laporan SIPRI, total pendapatan 100 perusahaan senjata terbesar mencapai US$679 miliar atau Rp 11.536,21 triliun (US$1=Rp 16.990) pada 2024.
Dalam industri ini, perusahaan-perusahaan besar dari Amerika Serikat seperti Lockheed Martin, Raytheon Technologies (RTX), Northrop Grumman, serta General Dynamics terus meraih pertumbuhan signifikan. Kenaikan pendapatan mereka terutama dipengaruhi oleh konflik di Ukraina, wilayah Timur Tengah, dan kebutuhan modernisasi militer di berbagai negara. Lockheed Martin, misalnya, tetap menjadi perusahaan senjata terbesar dunia dengan pendapatan sekitar US$64,65 miliar atau Rp 1,096 triliun.
Perusahaan Senjata Global: Dominasi AS dan Kenaikan Tertinggal
Selain AS, negara-negara lain seperti Eropa, Rusia, dan Tiongkok juga memperlihatkan pertumbuhan yang menjanjikan. BAE Systems, perusahaan Eropa, masuk sebagai pemain utama dengan pendapatan sekitar US$33,79 miliar. Rusia, meski terkena sanksi internasional, tetap mempertahankan perusahaan seperti Rostec dalam daftar besar melalui kebutuhan senjata domestik yang tinggi.
Tiongkok menunjukkan kekuatan dengan berbagai perusahaan seperti AVIC, CETC, NORINCO, China State Shipbuilding Corporation, dan China Aerospace Science and Technology Corporation. Kinerja mereka mencerminkan kekuatan industri pertahanan Tiongkok, terutama di bidang penerbangan, elektronik militer, hingga pembuatan kapal. Meski belum menyamai dominasi AS, perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai memperluas pengaruhnya di pasar Asia dan negara-negara berkembang.