Latest Program: Konflik Timur Tengah & Pergeseran Keseimbangan Pasar Minyak

Konflik Timur Tengah & Pergeseran Keseimbangan Pasar Minyak

Catatan: Artikel ini menyampaikan pandangan penulis secara pribadi, dan tidak mencerminkan sikap Redaksi CNBCIndonesia.com.

Pasokan Minyak Global: Tren Peningkatan

Dalam kondisi tanpa konflik Timur Tengah (perang AS-Israel dan Iran), pasar minyak dunia pada 2026 diprediksi akan mengalami oversupply. Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA) 2025, pasokan global diproyeksikan mencapai 107,4 juta barel per hari (bph), naik dari 106,2 juta bph pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan utama berasal dari produksi negara non-OPEC, yang meningkat dari 72,5 juta bph menjadi sekitar 73,7 juta bph.

Permintaan Minyak: Penyesuaian Tahunan

Sementara itu, konsumsi global pada 2026 diperkirakan sebesar 105,2 juta bph, naik dari 103,9 juta bph 2025. Kenaikan ini dominan dari negara non-OECD di Asia, terutama Tiongkok (+300 ribu bph) dan India (+170 ribu bph). Pasar Timur Tengah dan Afrika juga memberikan kontribusi kecil, dengan estimasi kenaikan 100 ribu bph dan 150 ribu bph masing-masing.

Disrupsi Pasokan di Selat Hormuz

Konflik mengubah secara tiba-tiba skenario tersebut. Disrupsi pasokan melalui Selat Hormuz, jalur energi paling strategis global, menjadi faktor utama. Sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG melewati wilayah ini, menjadikannya chokepoint kritis. Produksi negara-negara Teluk, yang mencapai 20 juta bph, mengalami kerugian hingga 17,5 juta bph, terdiri dari 13,4 juta bph minyak mentah dan 4,1 juta bph produk siap pakai.

Kenaikan Harga Minyak: Dampak Shock Pasokan

“Harga minyak Brent naik dari sekitar USD 65 per barel sebelum krisis menjadi di atas USD 100 per barel,”

tulis sumber. Fluktuasi harga bahkan sempat melampaui USD 115 per barel saat artikel ini ditulis.

Pengaturan Pasokan: Upaya Meredam Gejolak

Untuk meredam ketidakstabilan, International Energy Agency (IEA) dan AS mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis (SPR), masing-masing 400 juta dan 172 juta barel. Ini merupakan pelepasan terbesar sepanjang sejarah, jauh lebih besar dibandingkan 182 juta barel setelah invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022. Namun, jika distribusi dilakukan dalam dua bulan, jumlah pasokan hanya mencapai sekitar 6,6 juta bph.

Mekanisme Penyesuaian: Bukan Solusi Sementara

Disrupsi di Selat Hormuz memaksa pasar mengadopsi beberapa strategi penggantian. Ini mencakup penggunaan jalur pipa melalui Hormuz (Yanbu dan Fujairah) sebesar 2 juta bph, penarikan stok minyak Rusia dan Iran sekitar 1 juta bph, serta peningkatan ekspor dari produsen non-Teluk sebanyak 2 juta bph. Kombinasi empat penyangga ini hanya mampu menutupi sebagian kehilangan pasokan dan bersifat sementara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *