Latest Program: Harga Minyak Ugal-ugalan, Kian Mendidih di Atas US$100 per Barel
Harga Minyak Ugal-ugalan, Kian Mendidih di Atas US$100 per Barel
Pada awal pekan ini, harga minyak mentah dunia terus mengalami fluktuasi akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kebutuhan akan kepastian akhir perang dan resolusi konflik menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar energi global. Dua acuan minyak utama, Brent dan WTI, mencetak rekor harga tertinggi sejak Juli 2022 setelah penutupan sesi perdagangan, dengan kenaikan beruntun selama empat hari.
Pada perdagangan Senin (30/3/2026), harga Brent mencapai US$112,78 per barel dengan kenaikan 0,19%, sementara WTI berada di US$102,88 per barel, naik 3,25% dibanding hari sebelumnya. Pergerakan positif ini terus berlanjut pada perdagangan Selasa (31/3/2026), dengan Brent menguat lebih lanjut hingga US$118,35 per barel, sedangkan WTI stabil di US$101,38 per barel.
“Kami siap untuk menghancurkan infrastruktur energi Iran jika akses Selat Hormuz tidak segera diperbaiki,” ujar Presiden AS Donald Trump.
Kenaikan harga minyak terjadi karena eskalasi konflik yang mengganggu jalur distribusi energi. Menurut laporan Reuters, sebuah kapal tanker besar terbakar setelah diserang drone di lepas pantai Dubai. Kapal tersebut membawa sekitar 2 juta barel minyak, bernilai lebih dari US$200 juta pada harga saat ini. Insiden ini menjadi bagian dari serangkaian kejadian di wilayah Teluk dan Selat Hormuz sejak akhir Februari.
Wilayah strategis ini menyumbang sekitar 20% dari pasokan minyak dan gas global. Gangguan kecil di sini langsung memicu tekanan harga dan kepanikan pasar. Dengan adanya konflik yang berlangsung, distribusi energi global semakin rentan. Harga bensin di AS pun mencapai US$4 per galon, angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir, mencerminkan ketegangan pasokan yang meningkat.
Sementara itu, upaya diplomasi memberikan sedikit harapan. Pemerintah AS dilaporkan masih membuka ruang negosiasi dengan Iran, bahkan mempertimbangkan akhir perang meski Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya. Namun, ketidakpastian tetap menghantui pasar. Harga minyak mentah langsung turun drastis pada Rabu (1/4/2026) setelah Trump mengatakan bahwa operasi militer bisa berakhir dalam dua hingga tiga minggu.
Brent turun hingga US$101,16 per barel, menurun 14,52%, sementara WTI mengalami penurunan 1,24% ke US$100,12 per barel. Meski ada optimisme, analis mengingatkan bahwa kerusakan infrastruktur dan biaya pengiriman tanker masih akan memengaruhi harga jangka pendek. Selain itu, International Energy Agency (IEA) mengingatkan bahwa gangguan pasokan mulai dirasakan di Eropa pada April, mengakibatkan kenaikan tajam harga minyak.
Menurut Refinitiv, pada hari Jumat (2/4/2026) harga Brent ditutup di US$109,03 per barel, naik 7,87%, sementara WTI berada di US$111,54 per barel, meningkat 11,41%. Meskipun ada sedikit penurunan, tekanan pada pasokan energi masih berlanjut, dengan risiko lonjakan harga jika situasi tidak segera stabil.