Key Strategy: Andrie Yunus Bicara Pertama Kali Usai Insiden Penyiraman Air Keras
Andrie Yunus Bicara Pertama Kali Usai Insiden Penyiraman Air Keras
Kamis (2/4), akun Instagram @kontras_update membagikan pernyataan pertama dari aktivis Andrie Yunus sejak ia menjadi korban penyiraman air keras oleh pihak yang belum diketahui. Pernyataan tersebut direkam pada Rabu (1/4) dan berisi ucapan terima kasih atas dukungan yang diterimanya dari berbagai elemen masyarakat.
Pernyataan Mantan Aktivis
“Halo kawan-kawan, terima kasih atas segala bentuk dukungan yang telah diberikan kepada saya untuk menghadapi teror dari orang-orang yang pengecut. Saya akan tetap kuat, akan tetap tegar, tentu dengan segala dukungan penuh dari kawan-kawan sekalian,” ujar Andrie Yunus dalam pernyataannya.
Ia juga memotivasi pendukungnya dengan mengatakan, “A luta continua! Panjang umur perjuangan!” Penyiraman air keras terjadi pada 12 Maret lalu, setelah ia menghadiri acara siniar bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
Penanganan Kasus
Saat ini, Andrie Yunus masih menjalani perawatan intensif di ruang high care unit (HCU). Keluarga, kuasa hukum, serta rumah sakit mengimbau pengunjung untuk dibatasi demi menjaga kondisi pasien. Dalam peristiwa tersebut, korban mengalami luka serius di beberapa bagian tubuh, termasuk wajah, dada, tangan, dan mata.
Suspect dan Proses Hukum
Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI telah menahan empat anggota TNI yang diduga terlibat. Mereka terdiri dari NDP (kapten), SL dan BHW (letnan satu), serta ES (sersan dua), yang bertugas di Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (Denma BAIS). Sementara itu, Polda Metro Jaya sempat mengungkap dua terduga pelaku berinisial BHC dan MAK, dengan kemungkinan jumlah pelaku lebih dari dua orang.
Motif Belum Terungkap
Polisi menyatakan tidak menemukan keterlibatan warga sipil dalam kasus ini. Setelah ditemukan keterlibatan anggota militer, penanganan perkara dilimpahkan ke Puspom TNI. Keempat tersangka dijerat pasal penganiayaan, sementara proses hukum dijanjikan berjalan terbuka dan profesional. Hingga awal April, motif di balik serangan ini belum terungkap meski telah berlalu tiga pekan sejak peristiwa terjadi.