Key Strategy: Tips Berhemat Tanpa Tersiksa, Jurus Penting di Tengah Gejolak Harga

Tips Berhemat Tanpa Tersiksa, Jurus Penting di Tengah Gejolak Harga

Menyesuaikan Pengeluaran dengan Tantangan Ekonomi

Kondisi geopolitik internasional masih berlangsung tanpa tanda-tanda kejelasan. Konflik di Timur Tengah memengaruhi harga kebutuhan dasar di Indonesia, termasuk plastik yang mengalami kenaikan. Nilai tukar rupiah tercatat menyentuh Rp17.000 per dolar AS, memaksa masyarakat lebih bijak dalam mengelola keuangan.

“Dari kebutuhan utama itu pun tetap diupayakan untuk berhemat. Misalnya makan dengan masakan di rumah supaya pengeluaran bisa tetap terjaga,” ujar Tejasari kepada CNNIndonesia.com, Rabu (1/4).

Perencana keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari, menekankan pentingnya mengutamakan pengeluaran untuk kebutuhan pokok. Ia juga merekomendasikan peningkatan dana darurat karena ketidakpastian ekonomi yang terus-menerus. Dana tersebut sebaiknya disimpan dalam bentuk likuid dan aman, seperti tabungan, deposito, emas, atau reksa dana pasar uang.

Strategi Pengeluaran Berdasarkan Kondisi Pribadi

Tejasari memberikan panduan komposisi pengeluaran umum: 40% untuk kebutuhan rutin, 30% untuk cicilan utang, 10% untuk tabungan atau investasi, serta 20% untuk kebutuhan pribadi. Ia mengakui komposisi ini bisa disesuaikan sesuai kebutuhan masing-masing. Jika tidak ada utang, porsi tabungan dan investasi bisa ditingkatkan hingga 40%.

Dalam situasi yang berkeluarga, pengeluaran rutin dianggap sebagai prioritas utama, sementara pengeluaran pribadi cenderung lebih kecil karena beban kebutuhan keluarga. Sebaliknya, bagi individu yang masih lajang, kebutuhan pribadi bisa lebih besar sementara pengeluaran rutin hanya sekitar 20%.

Andy Nugroho dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) menawarkan skema lain. Ia menyebutkan pengelompokan anggaran sehari-hari, tabungan, dana darurat, pengembangan diri, hiburan, dan donasi. Komposisi menurutnya adalah 55% untuk kebutuhan sehari-hari, 10% tabungan atau investasi, 10% dana darurat, 10% untuk peningkatan diri, 10% untuk kesenangan, dan 5% untuk donasi.

“Contohnya adalah membayar cicilan utang, membayar tagihan air, beli token listrik, uang sekolah anak dan lain-lain,” ujar Andy.

Menurut Andy, kebutuhan wajib harus menjadi prioritas pertama, sementara kebutuhan penting bisa diatur sesuai kemampuan. Untuk pengeluaran bersifat hiburan, ia menyarankan menguranginya saat kondisi ekonomi tidak pasti. Keduanya sepakat bahwa menghindari utang baru dan melunasi pinjaman dengan bunga tinggi menjadi langkah strategis selama masa krisis.

Bagi yang ingin menyesuaikan pengeluaran, Tejasari dan Andy menawarkan pendekatan berbeda. Meski skala prioritas berbeda, tujuan utama keduanya tetap sama: menjaga keseimbangan keuangan tanpa merasa terbebani. Dengan mengatur anggaran secara proporsional, masyarakat bisa menghadapi fluktuasi harga dengan lebih siap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *