New Policy: Awalnya Bilang Tak Butuh, Trump Ngaku Juga Mau Ambil Minyak Iran
Awalnya Bilang Tak Butuh, Trump Ngaku Juga Mau Ambil Minyak Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan pendirian politiknya terkait konflik Timur Tengah dengan menyatakan pemerintahannya mungkin akan menguasai industri minyak Iran. Hal ini diungkapkan dalam unggahan media sosial pada Jumat (3/4/2026), di mana Trump menunjukkan harapan besar mendapatkan keuntungan dari sumber daya alam tersebut. “Dengan sedikit waktu tambahan, kita bisa dengan mudah menguasai Selat Hormuz dan mengambil minyak mereka, serta mendapatkan keuntungan besar,” tulisnya. “Ini akan menjadi ‘sumur minyak melimpah’ bagi dunia???” lanjutnya.
“Kita bisa saja mengambil minyak mereka. Tetapi, Anda tahu, saya tidak yakin rakyat di negara kita memiliki kesabaran untuk melakukan itu, yang sangat disayangkan,” kata Trump dalam keterangan resmi.
Penegasan tersebut muncul di tengah ketidakjelasan strategi AS untuk membuka Selat Hormuz, jalur distribusi energi penting yang sebelumnya diblokir Iran. Sejak beberapa pekan terakhir, Trump terus menjanjikan bahwa AS akan segera mengambil langkah untuk menguasai jalur tersebut, meski militer AS menyatakan belum siap mengawal kapal tanker di area sempit tersebut karena risiko serangan dari drone dan rudal Iran.
Menurut doktrin hukum internasional tentang Kedaulatan Permanen atas Sumber Daya Alam yang diadopsi Majelis Umum PBB pada 1962, minyak dan mineral berada di bawah kepemilikan negara tempat mereka terletak. “Pelaksanaan bebas dan bermanfaat atas kedaulatan rakyat dan bangsa atas sumber daya alam mereka harus ditingkatkan melalui saling menghormati antarnegara berdasarkan kesetaraan kedaulatan,” demikian bunyi resolusi yang dikutip Al Jazeera.
Trump juga menyebutkan bahwa pendekatan terhadap Iran mirip dengan kasus Venezuela, di mana pemerintahannya bekerja sama dengan Delcy Rodriguez, pengganti Nicolas Maduro yang diculik Januari lalu, untuk menjual minyak dalam jumlah besar. Namun, kebijakan itu diperkirakan membutuhkan perang yang lebih lama. “Mereka ingin melihat ini berakhir. Jika kita tetap di sana, saya lebih memilih mengambil minyaknya saja,” tambah Trump.
Dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu (2/4/2026) malam, Trump sebelumnya menegaskan bahwa AS tidak lagi membutuhkan minyak Iran. “Kita berada di sana untuk membantu sekutu kita. Harga gas akan turun dengan cepat, dan ekonomi kita akan segera tumbuh kembali seperti belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya. Meski demikian, pernyataan terbaru Trump dinilai sebagai peningkatan eskalasi retorika, karena pemerintahannya belum memerinci rencana konkret untuk menguasai industri minyak Iran.