Meeting Results: Pemkot Jaktim prioritaskan kesehatan siswa korban keracunan MBG

Pemkot Jaktim Fokus pada Pemulihan Kesehatan Siswa Korban Diduga Keracunan MBG

Jakarta – Pemkot Jakarta Timur (Jaktim) sedang menempatkan prioritas pada pemulihan kondisi kesehatan siswa yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa sekolah di Duren Sawit. Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jaktim, M. Fahmi, mengatakan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk menyatakan apakah kejadian tersebut benar-benar keracunan atau tidak. “Kami hanya fokus pada kebutuhan anak-anak, terutama aspek kesehatannya,” ujarnya saat diwawancarai di Jakarta, Sabtu.

Fahmi menjelaskan bahwa siswa serta guru yang menunjukkan gejala keracunan telah diteruskan ke Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit. Namun, pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan mengenai penyebab kejadian karena investigasi masih dalam proses dan berada di bawah tanggung jawab instansi kesehatan. “Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, sementara itu terus memperbarui data siswa yang sedang dirawat atau sudah pulang,” tambah Fahmi.

Penjelasan dari Sudin Pendidikan

Menurut Sudin Pendidikan, mereka tidak berwenang memberikan diagnosis keracunan. “Karena data masih belum lengkap, kita belum bisa menyebut ini sebagai kasus keracunan,” tegas Fahmi. Pihaknya telah melakukan rapat dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dari sektor kesehatan dan tim program MBG. Namun, jelas Fahmi, pengungkapan penyebab kejadian tidak dapat dilakukan hingga hasil laboratorium resmi keluar.

Laporan Sementara dari Kasatpel

Berdasarkan informasi terbaru dari Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) Pendidikan Kecamatan Duren Sawit, per 3 April 2026 pukul 11.18 WIB, jumlah korban diduga keracunan mencapai 135 orang. Rinciannya, SDN Pondok Kelapa 09 melibatkan 33 siswa, tujuh di antaranya dirawat di RSUD Duren Sawit. Di SDN Pondok Kelapa 01 terdampak 37 siswa, SDN Pondok Kelapa 07 mencatat 31 siswa dengan delapan yang menjalani perawatan, serta SMAN 91 yang melibatkan 34 orang, terdiri dari 28 siswa dan 6 guru serta staf pendidikan.

Z, salah satu orang tua siswa dari SDN Pondok Kelapa 01, menyebut bahwa kejadian serupa tidak hanya terjadi di satu sekolah. “Kami mendapat laporan dari grup sekolah bahwa sekitar 135 siswa dan guru dari beberapa institusi terkena efek tidak menyenangkan setelah makan MBG,” ungkap Z. Kebiasaan anak-anak umumnya tidak langsung makan nasi, tetapi spaghetti hari itu memicu banyak siswa untuk mengonsumsinya di sekolah.

Z juga menegaskan bahwa jumlah korban cukup signifikan dan melibatkan lebih dari satu sekolah. “Kita meminta transparansi dari pihak terkait karena dampaknya terasa luas,” imbuhnya. Pemkot Jaktim mengimbau semua pihak untuk tidak menyimpulkan sebelum hasil resmi dari pemeriksaan keluar. “Informasi yang diberikan harus akurat,” ujar Fahmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *