New Policy: Trump siap akhiri operasi Iran meski Selat Hormuz belum dibuka
Trump Bersedia Hentikan Operasi Militer Terhadap Iran Meski Selat Hormuz Masih Terbatas Terbuka
Menurut laporan yang ditulis The Wall Street Journal, Senin (30/3), Presiden AS Donald Trump menyatakan kepada tim kerjanya bahwa ia bersedia menghentikan operasi militer terhadap Iran meskipun Selat Hormuz masih terbatas terbuka. Laporan ini dikutip oleh RIA Novosti pada hari Selasa, menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir, Trump dan para stafnya menyimpulkan bahwa misi untuk membuka Selat Hormuz secara penuh bisa memperpanjang konflik lebih dari rencana awal yang memperkirakan durasi operasi antara empat hingga enam pekan.
“Washington sebaiknya fokus pada tujuan utamanya, yaitu membatasi kemampuan angkatan laut Iran dan persediaan rudalnya, serta mengurangi ketegangan saat ini,” kata Trump kepada para stafnya, menurut sumber laporan.
Dalam strategi saat ini, Trump memutuskan untuk menekan Teheran agar menjamin kelancaran arus perdagangan, sambil meredakan permusuhan yang sedang berlangsung. Jika upaya ini tidak berhasil, kota-kota sekutu di Eropa dan negara-negara Teluk Persia disebut akan diminta untuk berperan lebih besar dalam memastikan keterbukaan jalur pelayaran strategis tersebut.
Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, pada akhir Februari lalu. Serangan ini menyebabkan kerusakan dan korban di kalangan sipil, yang direspons oleh Iran dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah. Eskalasi konflik tersebut memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global.
Situasi ini memengaruhi tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar di sebagian besar negara di dunia. Meski demikian, Trump tetap mempertimbangkan opsi militer tambahan, meski bukan menjadi prioritas utama dalam rencananya saat ini.