Historic Moment: Menbud ungkap keunikan sarkofagus di Situs Cipari Kuningan
Menbud Ungkap Keunikan Sarkofagus di Situs Cipari Kuningan
Kuningan – Selama kunjungan kerjanya ke Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti penemuan sarkofagus yang berbeda dari situs sejenis di daerah lain. Menurutnya, struktur ini menunjukkan kemajuan teknik penguburan masyarakat prasejarah di wilayah tersebut.
Struktur Unik dan Teknik Penguburan
Sarkofagus yang ditemukan di Situs Cipari terdiri dari empat lempengan batu andesit, bukan satu batu utuh. Hal ini menunjukkan metode konstruksi khas pada masa itu, yang berbeda dari bentuk monolit yang lebih umum.
“Temuan-temuan sarkofagus atau tempat kubur batu dengan bentuk unik, seperti ini, terdiri dari empat lempengan batu andesit, tidak dalam satu batu yang utuh,” kata Menbud.
Kemudian, ia menjelaskan bahwa sarkofagus ini menjadi bukti konkret peradaban manusia yang telah berkembang di Kuningan. Situs Cipari mulai ditemukan dan dieksplorasi oleh para arkeolog sejak awal 1970-an.
Sejarah dan Rentang Waktu
Menurut Menbud, Situs Cipari berasal dari periode Neolitikum hingga Megalitikum, dengan rentang waktu sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi hingga 500 tahun sebelum Masehi. “Di Cipari, zamannya mencakup Neolitikum dan Megalitikum, mungkin sekitar 2.000 hingga 500 tahun sebelum Masehi,” terangnya.
Periode tersebut menunjukkan bahwa wilayah Kuningan telah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu. Ia menekankan pentingnya melanjutkan ekskavasi untuk mengungkap temuan baru di lokasi tersebut.
“Tentu ke depan kita harapkan akan semakin banyak ekskavasi dan temuan-temuan baru, bekerja sama dengan para peneliti,” tambah Menbud.
Pengembangan Museum dan Pusat Budaya
Sebagai bagian dari upaya pelestarian, pemerintah melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat telah merevitalisasi museum di Situs Cipari. Museum ini dirancang untuk menyimpan artefak dan menyajikan informasi secara terstruktur.
Menbud menyampaikan bahwa museum dilengkapi fasilitas yang rapi serta elemen digital agar bisa menjadi ruang edukasi bagi generasi muda. Selain itu, kawasan ini memiliki potensi dikembangkan menjadi pusat aktivitas budaya, seperti amphitheater yang diimbangi oleh lanskap alam yang mendukung.
“Pemanfaatan dan aktivasi situs-situs sebagai ruang budaya ini menjadi bagian penting bagi Kemenbud, bekerja sama dengan pemerintah provinsi, kabupaten, dan komunitas lokal,” jelas Menbud.