Latest Program: Kasatgas PRR Pastikan Percepatan Penanganan Pengungsi Aceh Tamiang
Kasatgas PRR Pastikan Percepatan Penanganan Pengungsi Aceh Tamiang
Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, melakukan inspeksi langsung ke daerah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, pada hari Sabtu (4/4). Kunjungan ini bertujuan mempercepat upaya penanganan warga yang terkena musibah, termasuk mereka yang masih tinggal di tenda pengungsian.
Kondisi Pengungsi dan Progres Rehabilitasi
Dalam inspeksinya, Tito berdialog langsung dengan warga pengungsi di tiga desa, yaitu Lubuk Sidup, Tanjung Gelumpang, dan Sekumur, yang terletak di Kecamatan Sekerak. Ia menegaskan bahwa jumlah pengungsi telah menurun signifikan dibandingkan masa awal bencana pada akhir November 2025. Dulu, sekitar 2,1 juta jiwa terdampak mengungsi di tiga provinsi, namun kini angka tersebut terus berkurang.
“Yang pemerintah sampaikan adalah [pengungsi yang sudah tidak tinggal di tenda] mendekati 100 persen. Kita hitung lebih kurang sekira-kira 300 KK (Kepala Keluarga) misalnya 1.000 pengungsi, dibandingkan dengan awalnya 2,1 juta jiwa, itu sudah 99 persen lebih [yang tidak lagi di tenda],” ujar Tito.
Tito memastikan bahwa perhatian pemerintah tetap terarah pada pengungsi yang masih ada, khususnya di Aceh Tamiang dan Bireuen. Di Bireuen, saat ini sedang dibangun hunian tetap (huntap) untuk memenuhi kebutuhan warga. Dalam peninjauan, ia juga mengamati progres konstruksi hunian sementara (huntara) di beberapa desa, termasuk Sekumur.
Ia optimistis pembangunan huntara akan segera selesai dalam waktu dekat. Namun, kondisi geografis seperti akses jalan yang terganggu akibat longsor menjadi hambatan utama dalam percepatan proyek tersebut. “Mudah-mudahan cuaca mendukung, sehingga akhir minggu depan semua [huntara] in-situ, yang berada di tanah masing-masing, bisa dibangun oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana),” imbuhnya.
Bantuan dan Penyesuaian dengan Aspirasi Masyarakat
Selain pembangunan hunian, pemerintah juga menjamin distribusi berbagai bentuk bantuan seperti lauk-pauk, perabot rumah tangga, dan stimulus ekonomi. Tito menyoroti kebutuhan dasar lainnya, termasuk air bersih, yang akan dipenuhi melalui pembangunan sumur bor oleh BNPB dan Satgas PRR.
Rencana pembangunan huntap secara terpusat juga disesuaikan dengan harapan warga yang ingin pindah dari zona rawan bencana. “Karena daerahnya rawan di pinggir sungai, masyarakat menghendaki dibangunkan hunian tetap dalam bentuk kompleks,” kata Tito, setelah mendengar langsung dari tokoh setempat.
Pada kesempatan tersebut, Tito menyerahkan beberapa paket bantuan, antara lain perlengkapan ibadah, sembako, alat dapur, serta toren air berkapasitas 2.000 liter. Hadir dalam inspeksi ini Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi, jajaran Forkopimda, Rektor IPDN Halilul Khairi, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Safrizal ZA, dan pejabat Kemendagri lainnya.