Key Strategy: Trump Kena Batunya Setelah Ancam Kembalikan Iran ke Zaman Batu
Trump Terjebak Dalam Ancaman Iran Setelah Pernyataan “Zaman Batu”
Beberapa jam setelah ancaman tajam yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Iran mengambil langkah nyata dengan menargetkan dua pesawat tempur milik AS. Serangan ini terjadi pada hari yang sama dengan pernyataan Trump yang menyebut akan “mengembalikan Iran ke zaman batu”.
Ancaman Trump dan Respons Iran
Trump mengungkapkan rencana serangan terhadap Iran dalam pidato di Gedung Putih, Jumat (3/4/2026). Ia menyatakan, “Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan.” Menurut Trump, tindakan tersebut bertujuan untuk memaksa Iran kembali ke kondisi yang “seharusnya berada”.
“Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada,” ujarnya.
Sementara itu, Komando Operasi Militer Khatam Al-Anbiya mengancam akan membalas dengan tindakan yang lebih menghancurkan. “Nantikan tindakan kami yang lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif,” demikian pernyataan mereka.
Dampak Politik pada Hubungan AS-Iran
Iran membuktikan ancamannya dengan menghancurkan dua jet tempur F-15E Strike Eagle. Satu pilot berhasil diselamatkan, sementara satu orang lainnya masih dalam proses pencarian. Selain itu, pesawat A-10 Thunderbolt II juga terkena serangan, memaksa pilotnya melontarkan diri sebelum akhirnya diselamatkan.
Trump menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan mengubah rencananya. “Tidak, tidak sama sekali. Ini adalah perang. Kita sedang berperang,” ujarnya.
Proporsi gencatan senjata 48 jam yang diajukan oleh AS juga ditolak tegas oleh Iran. Menurut laporan Fars News Agency, proposal tersebut disampaikan melalui negara ketiga, namun tidak direspons secara resmi. Iran malah melanjutkan operasi militer untuk menunjukkan sikapnya.
Keinginan Trump Menguasai Minyak Iran
Dalam konflik yang memanas, Trump juga menyatakan hasrat untuk menguasai sumber daya alam Iran. “Dengan sedikit waktu tambahan, kita dapat membuka Selat Hormuz, mengambil minyaknya, dan mendapatkan keuntungan besar,” tulisnya.
Pernyataan ini bertolak belakang dengan sikap sebelumnya yang menyebut AS tidak membutuhkan minyak Iran. Dalam hukum internasional, tindakan pengambilan sumber daya alam oleh negara lain dinilai bertentangan dengan prinsip kedaulatan permanen yang diakui PBB.
Selat Hormuz, jalur vital bagi 20% pasokan minyak dan gas global, mulai dilonggarkan aksesnya. Kapal dari Oman, Prancis, Jepang, hingga Tiongkok dilaporkan berhasil melewati jalur strategis tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, meminta deeskalasi konflik.
“Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan global. Tiongkok menyerukan gencatan senjata segera,” ujarnya.
Situasi memanas ini justru menekan Washington, dengan respons Iran yang semakin tegas. Dari ancaman “zaman batu” hingga rencana menguasai minyak Iran, konflik terus berlangsung dan berpotensi melebar. Penolakan gencatan senjata serta serangan terhadap angkatan udara AS menunjukkan bahwa perang belum mencapai titik akhir.