Special Plan: Negara yang Paling Dibenci Trump Justru Cuan di Era AI, AS Kalah!
Negara yang Paling Dibenci Trump Justru Cuan di Era AI, AS Kalah!
Dalam laporan terbaru, industri semikonduktor Tiongkok mencatatkan pendapatan tertinggi sepanjang tahun 2025, yang didorong oleh kebutuhan besar terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI), kelangkaan chip memori, serta kebijakan pembatasan ekspor dari Amerika Serikat (AS). Meski AS mencoba membatasi akses Tiongkok ke sektor teknologi kritis, langkah tersebut justru memperkuat upaya Beijing untuk mendorong pengembangan industri lokal secara besar-besaran.
Analisis dan Proyeksi
Dilansir CNBC International dan Bloomberg pada Minggu (05/04/2026), Paul Triolo, mitra di Albright Stonebridge Group, mengatakan bahwa pembatasan ekspor AS selama beberapa tahun terakhir menjadi faktor penggerak permintaan chip yang tinggi. Hal ini tidak hanya mendorong pertumbuhan sektor semikonduktor, tetapi juga memperkuat bisnis di bidang lain seperti kendaraan listrik dan pusat data AI.
“Pembatasan ekspor AS selama beberapa tahun terakhir telah mempercepat pertumbuhan chip matang, sementara permintaan untuk teknologi lebih canggih meningkat drastis karena AI,” ujar Triolo.
Kinerja Perusahaan Tiongkok
Semiconductor Manufacturing International Co. (SMIC), perusahaan chip terbesar di Tiongkok, melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 16% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai rekor US$ 9,3 miliar (Rp 158,1 triliun) pada 2025. Prediksi analis LSEG menyebutkan bahwa pendapatan perusahaan ini bisa mencapai US$ 11 miliar (Rp 187 triliun) di tahun 2026.
Produsen chip lainnya, Hua Hong, juga mencatatkan pendapatan kuartal keempat yang mencapai rekor US$ 659,9 juta (Rp 11,21 miliar). Perusahaan ini optimis menjaga penjualan di kisaran US$ 650 juta hingga US$ 660 juta di masa depan.
Permintaan untuk Teknologi Lebih Canggih
Sementara itu, perusahaan seperti Moore Threads, yang berupaya menyaingi Nvidia, menunjukkan peningkatan pendapatan hingga 231% hingga 247% tahunan pada 2025, dengan nilai antara 1,45 miliar yuan hingga 1,52 miliar yuan (Rp 3,5 triliun hingga Rp 3,6 triliun). Triolo menekankan bahwa meski ada kebutuhan untuk chip yang lebih canggih, industri semikonduktor Tiongkok tetap berkinerja baik.
Pengaruh Pembatasan Ekspor
Langkah AS yang memutus akses Tiongkok ke teknologi utama mempercepat keberhasilan Beijing dalam mendorong kemandirian teknologi. Contohnya, pembatasan chip Nvidia ke Tiongkok mendorong perusahaan lokal seperti Huawei untuk mengisi kekosongan meski performa mereka masih kalah dibandingkan produk AS.
“Meskipun Tiongkok belum menjuarai performa GPU terbaik, solusi dalam negeri berhasil memenuhi kebutuhan komputasi lokal dan mencatatkan rekor pendapatan,” kata Parv Sharma, analis senior di Counterpoint Research.
Sektor Chip Memori
Kelangkaan chip memori secara global, yang menjadi komponen utama untuk pusat data AI dan perangkat konsumen, memicu lonjakan harga. Perusahaan Tiongkok ChangXin Memory Technologies (CXMT) melaporkan pertumbuhan pendapatan 130% tahunan, mencapai lebih dari 55 miliar yuan (US$ 8 miliar/Rp 136 triliun) pada 2025. Selama ini, HBM (High-bandwidth memory) utamanya dipegang oleh Samsung, SK Hynix, dan Micron, tetapi pembatasan ekspor menghadirkan peluang bagi CXMT.
Phelix Lee, analis ekuitas di Morningstar, menilai bahwa setelah pembatasan HBM, CXMT menjadi satu-satunya alternatif lokal yang signifikan. Hal ini menunjukkan adaptasi industri Tiongkok dalam menghadapi tantangan ekspor.