Important Visit: Trump Beri Iran Tenggat Waktu 48 Jam, Pilih Sepakat atau Hadapi Neraka
Trump Beri Iran Tenggat Waktu 48 Jam, Pilih Sepakat atau Hadapi Neraka
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Tehran harus memutuskan dalam 48 jam antara mencapai kesepakatan atau menghadapi “neraka besar”. Pernyataan ini muncul setelah serangan terhadap PLTN Iran memicu evakuasi, serta ancaman baru dari Teheran terhadap kapal dagang di Bahrain yang diduga berkaitan dengan Israel.
Konflik berlangsung lebih dari sebulan, dimulai dari serangan AS-Israel terhadap Iran, yang telah memperluas perang ke berbagai wilayah Timur Tengah dan mengganggu stabilitas ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz, jalur utama minyak dan gas, menjadi salah satu dampak utamanya.
“Ingat saat saya beri Iran sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ,” tulis Trump di Truth Social. “Waktu hampir habis – 48 jam sebelum malapetaka menimpa mereka.”
Trump sebelumnya ancam pada 21 Maret untuk “menghancurkan” PLTN Iran, termasuk yang terbesar, jika Tehran tidak membuka Selat Hormuz dalam 48 jam. Namun, dua hari kemudian, ia menyatakan bahwa diskusi dengan pihak Iran sedang berjalan lancar, dan menunda serangan terhadap fasilitas tersebut selama lima hari.
Di sisi lain, militer Iran mengklaim telah menembak jatuh pesawat tempur F-15 dan A-10 AS. Media AS melaporkan bahwa dua awak pesawat F-15 berhasil diselamatkan, sementara satu masih dalam pencarian. Pasukan rakyat dan anggota suku juga terlibat dalam upaya menemukan pilot yang hilang, bahkan menembaki helikopter musuh.
Sebuah video yang diverifikasi oleh AFPTV menunjukkan polisi Iran menembaki helikopter AS di barat daya Iran saat operasi pencarian pilot berlangsung. Mohammad Ghalibaf, ketua parlemen Iran, mengejek pemerintahan Trump dengan mengatakan, “Perang yang mereka mulai kini telah diturunkan dari ‘perubahan rezim’ menjadi ‘Hei! Bisakah ada yang menemukan pilot kami?'”
Bushehr: Serangan PLTN dan Respon Internasional
Sebelumnya, serangan udara di dekat PLTN Bushehr Iran pada hari Sabtu mengakibatkan kematian seorang penjaga. Rusia, yang terlibat dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas tersebut, mengumumkan evakuasi 198 pekerja. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan terhadap PLTN di pantai selatan bisa menyebabkan penyebaran radiasi yang merusak kehidupan di ibu kota Dewan Kerja Sama Teluk, bukan Tehran.
Bushehr lebih dekat ke Kuwait, Bahrain, dan Qatar daripada ke Tehran. Rafael Grossi, kepala Badan Energi Atom Internasional, menulis di X bahwa tidak ada peningkatan tingkat radiasi di lokasi, namun tetap menyatakan “keprihatinan mendalam” terhadap serangan keempat dalam beberapa minggu terakhir. “PLTN atau daerah sekitarnya tidak boleh diserang,” katanya.