What Happened During: Potensi Kejahatan Perang, PDIP Minta Ledakan Bikin TNI Luka di Lebanon Diusut

Potensi Kejahatan Perang, PDIP Minta Ledakan Bikin TNI Luka di Lebanon Diusut

Sebuah ledakan di daerah El Adeisse, Lebanon Selatan, menyebabkan tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) kembali menderita cedera. Legislator Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), TB Hasanuddin, mengungkapkan kebutuhan pemerintah untuk menyelidiki insiden tersebut secara mendalam.

“Pemerintah harus segera mendorong investigasi yang menyeluruh, transparan, dan independen. Perwakilan RI di PBB perlu mengirim desakan resmi kepada Dewan Keamanan PBB dan Sekretariat Jenderal PBB agar proses penyelidikan berjalan optimal,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (5/4/2026).

Hasanuddin menekankan bahwa fokus utama penyelidikan adalah mengidentifikasi apakah ledakan bersifat kebetulan akibat konflik atau disengaja sebagai pelanggaran hukum internasional. Menurutnya, jika terbukti serangan sengaja menimpa personel penjaga perdamaian, maka dapat diklasifikasikan sebagai kejahatan perang.

“Jika terbukti ada serangan terhadap anggota TNI, itu menjadi pelanggaran serius. Fokusnya harus menentukan apakah ini hasil kebetulan atau ada niat yang jelas,” tegas Hasanuddin.

Di sisi lain, Hasanuddin mengingatkan pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas dalam forum internasional. Ia menilai serangan terhadap atribut atau personel PBB tak boleh diabaikan, dan harus diikuti dengan tanggung jawab penuh dari pihak yang bersalah.

Hasanuddin juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif Kementerian Luar Negeri. Menurutnya, instansi ini perlu memantau proses penyelidikan secara ketat, mulai dari pengumpulan bukti hingga verifikasi kronologi. Selain itu, Kemlu harus memastikan hak prajurit yang terluka terpenuhi serta memberikan tekanan diplomatik untuk mempercepat proses.

Tiga prajurit TNI sebelumnya gugur dalam operasi di Lebanon akibat serangan Israel pada 29 dan 30 Maret 2026. Mereka adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur, dan Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon.

Hasanuddin menambahkan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan pasukan TNI di Lebanon harus segera dilakukan. Ia menyarankan Mabes TNI memeriksa posisi pangkalan, peningkatan perlindungan fisik, serta penegakan prosedur operasional saat terjadi eskalasi di sekitar area tugas.

Lebih lanjut, dia mengingatkan pemerintah untuk mempertimbangkan keberlanjutan keterlibatan Indonesia dalam UNIFIL jika kondisi di lapangan terus memburuk. “Jika kehadiran kita justru membahayakan prajurit, sementara pihak di lapangan tidak kooperatif dan PBB terlihat lemah, maka penarikan pasukan harus dipertimbangkan,” pungkas Hasanuddin.

Juru Bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan ledakan terjadi pada Jumat (3/4) sore dan melukai tiga anggota TNI, dua di antaranya mengalami luka serius. Namun, sumber ledakan masih belum diketahui secara pasti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *