Solution For: Fenomena Johatsu, Ketika Orang Memilih Lenyap dari ‘Kehidupannya’

Fenomena Johatsu, Ketika Orang Memilih Lenyap dari ‘Kehidupannya’

Fenomena johatsu, yang berarti ‘menguap’ dalam bahasa Jepang, menunjukkan bagaimana seseorang sengaja menghilang dari kehidupan sehari-harinya. Dengan cara ini, mereka meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan identitas lama, lalu memulai kehidupan baru di tempat lain. Prosesnya sering dijalankan secara diam-diam, hingga tidak meninggalkan jejak. Meski terdengar seperti cerita film, fenomena ini nyata dan mendapat dukungan dari layanan khusus.

Peran “Night Movers”

Layanan seperti yonige-ya atau ‘night movers’ menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menghilang tanpa ditemukan. Perusahaan ini mengurus pemindahan barang, dokumen, dan transportasi klien selama malam hari, agar tidak menarik perhatian. Banyak klien memanfaatkan layanan ini karena alasan serius, seperti korban kekerasan dalam rumah tangga atau hubungan abusif. Biaya jasa bisa bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu yen, tergantung tingkat kekompleksan kasus.

Angka yang Sering Disalahpahami

Setiap tahun, Jepang mencatat sekitar 80 ribu hingga 100 ribu kasus orang hilang. Angka ini mungkin terdengar besar, namun relatif rendah dibanding negara maju lainnya. Sebagai contoh, Inggris dengan populasi setengah dari Jepang mencatat 170.000 kasus hilang per tahun. Dari total tersebut, 95 persen orang hilang biasanya berhasil ditemukan. Artinya, hanya sebagian kecil yang benar-benar memilih johatsu.

Melansir Jobs in Japan, johatsu merujuk pada seseorang yang secara sengaja meninggalkan kehidupannya tanpa jejak. Mereka memutus semua hubungan masa lalu, termasuk pekerjaan dan keluarga, untuk memulai langkah baru.

Fenomena ini bukan eksklusif Jepang. Di berbagai negara, selalu ada kisah orang yang memulai kehidupan dengan identitas lain. Namun, Jepang unik karena memiliki sistem dan layanan yang mendukung proses ini. Istilah johatsu mulai populer sejak 1960-an, ketika stigma terhadap perceraian sangat tinggi. Banyak orang memilih menghilang daripada menghadapi tekanan sosial.

Dalam era 1990-an, johatsu kembali meningkat karena tekanan ekonomi. Banyak individu yang terjebak utang atau kegagalan bisnis memilih menghilang sebagai solusi. Namun, alasan di balik keputusan tersebut tidak selalu sederhana. Tekanan sosial, budaya kerja intens, atau hubungan tidak sehat bisa menjadi faktor pendorong utama.

Dengan sistem kependudukan dan catatan administrasi yang rapi, menghilang tanpa jejak di Jepang bisa menjadi nyata. Karena aturan privasi yang ketat, informasi pribadi sulit diakses oleh siapa pun, termasuk keluarga. Hal ini memungkinkan seseorang untuk mengubah identitas secara tuntas, selama mereka mengerti cara melakukannya.

Sebaliknya, Monocle menyebut bahwa angka johatsu sering dibesar-besarkan dengan mencampurkan berbagai kasus orang hilang, seperti demensia atau penculikan. Kasus johatsu yang sebenarnya, sebenarnya lebih sedikit. Meski demikian, fenomena ini tetap signifikan, karena setiap orang yang menghilang meninggalkan ketidakpastian bagi keluarga dan orang terdekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *