New Policy: Permintaan Logistik Farmasi Meningkat di Tengah Gejolak Perang
Permintaan Logistik Farmasi Meningkat di Tengah Gejolak Perang
Situasi dunia yang kian tidak menentu akibat perang, pandemi, dan ketegangan perdagangan membuat sektor logistik farmasi mengalami pertumbuhan yang mencolok. Sebagai pilar utama dalam distribusi obat-obatan serta produk medis vital, permintaan layanan ini meningkat drastis akibat ketidakpastian pasokan global yang semakin mengemuka. Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memicu perubahan ini.
Pelaku Industri: DHL dan Kepala Divisi Katrin Hoelter
Katrin Hoelter, kepala divisi logistik DHL di Jerman serta negara-negara Alpen, menjelaskan bahwa perang antara AS, Israel, dan Iran mengganggu jalur pengiriman internasional. “Beberapa pelanggan kami meminta peningkatan kapasitas penyimpanan di sini, karena mereka perlu menjaga ketersediaan bahan baku,” ujarnya saat berbicara di pusat logistik DHL Florstadt, dekat Frankfurt, seperti dikutip dari AFP.
“Kami memiliki 600 karyawan yang telah dilatih khusus, karena mereka menyadari bahwa pasien adalah bagian akhir dari rantai pasok dan tidak boleh ada kesalahan dalam distribusinya,” tambah Hoelter.
Puskesmas Jantung Eropa: Florstadt dan Peran Strategisnya
Pusat logistik DHL di Florstadt bertugas menjaga alur distribusi obat-obatan serta produk medis kritis, termasuk kapsul insulin, tabir surya, dan sejumlah drum asam sulfat, agar tetap lancar sampai ke rumah sakit, apotek, laboratorium, dan pelanggan lain di seluruh Eropa dan dunia. Di tengah ketakutan akan kekurangan obat karena perang di Timur Tengah yang telah berlangsung lima minggu, peran pusat ini menjadi lebih kritis.
Investasi dan Fokus pada Bisnis Inti
Menurut prediksi Iqvia, perusahaan analitik data kesehatan, pasar farmasi global akan mencapai lebih dari US$2,6 triliun pada 2030, didorong oleh pertumbuhan di Amerika Serikat dan pasar negara berkembang. Sementara itu, Landesbank Baden-Württemberg (LBBW), bank asal Jerman, mengungkapkan sektor terapi, pengobatan kanker, dan manajemen berat badan memiliki potensi pertumbuhan tertinggi.
DHL berencana mengalokasikan dua miliar euro (sekitar US$2,3 miliar atau Rp39 triliun) untuk pengembangan logistik farmasi hingga 2030. Seperempat dari total investasi tersebut akan digunakan untuk Eropa, sementara sekitar setengahnya ditujukan ke Amerika Utara, khususnya Amerika Serikat. Di sisi lain, produsen obat Eropa memindahkan sebagian produksi mereka untuk mengantisipasi kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump dan upaya menurunkan harga obat.
Kinerja DHL dan Tren Global
Hoelter menambahkan bahwa peningkatan ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri farmasi, di mana perusahaan semakin mengalihkan layanan logistik dan tugas lain agar fokus pada riset serta produksi farmasi. Meski jalur distribusi internasional tetap rentan terhadap gangguan, lokasi Florstadt lebih mengandalkan Terusan Suez yang saat ini beroperasi normal, dibandingkan jalur seperti Selat Hormuz yang terkena dampak perang.