Panitia SPAN-PTKIN perbarui metodologi seleksi – perkuat integritas

Panitia SPAN-PTKIN Perbarui Metodologi Seleksi, Perkuat Integritas

Jakarta – Sejumlah penyesuaian telah dilakukan oleh Panitia Nasional Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN) dalam rangka meningkatkan transparansi, kesetaraan akses pendidikan, serta harmonisasi data nasional. Dalam pernyataannya, Ketua Panitia SPAN-PTKIN 2026, Abdul Aziz, mengungkapkan bahwa transformasi sistem seleksi tahun ini menitikberatkan pada sinergi dengan lembaga pendidikan nasional, seperti Pusat Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen, dan penggabungan data ke dalam Sistem Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) serta Tes Kompetensi Akademik (TKA).

Penguatan Dasar Seleksi

“Kami fokus pada peningkatan fondasi seleksi, mulai dari penyempurnaan cara memverifikasi rapor hingga mengintegrasikan data secara nasional,” jelas Abdul Aziz dalam keterangan di Jakarta, Minggu. Ia menekankan bahwa perubahan ini bertujuan memastikan setiap calon mahasiswa memiliki peluang yang seimbang melalui mekanisme yang terbuka dan objektif.

“Pembaruan metode seleksi berbasis pemerataan satuan pendidikan akan meminimalisir kesenjangan akses antarwilayah,” tambah Sahiron, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, menyoroti keharmonisan sistem.

Kolaborasi di Tingkat Lokal

Perbaikan juga dilakukan di tingkat dasar melalui peran aktif Guru Bimbingan Konseling (BK) dan Kantor Wilayah Kementerian Agama di seluruh Indonesia. Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan proses pendaftaran dan pendampingan siswa berjalan efektif. Selain itu, SPAN-PTKIN 2026 menambahkan dimensi baru dalam evaluasi, yaitu pemetaan kesehatan mental calon mahasiswa.

Manajemen Sistem Seleksi

Dari sisi administrasi, Panitia Nasional meluncurkan dashboard pemantauan real-time untuk mengawasi aktivitas lembaga pendidikan, minat peserta, serta distribusi pendaftaran di masing-masing PTKIN. Sistem penilaian pun diperbarui dengan metode skoring dan indeks sekolah yang lebih tepat.

Dengan inovasi ini, Sahiron berharap SPAN-PTKIN 2026 dapat menjadi standar seleksi baru yang tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga mendorong inklusivitas dan adaptasi terhadap kemajuan teknologi pendidikan. Ia menegaskan bahwa keterlibatan lintas sektor, seperti Kanwil, Direktorat KSKK, Pontren, dan PTKI, menunjukkan komitmen Kementerian Agama dalam menjaga kualitas lulusan dari berbagai jalur pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *