Penemuan Terbaru! Parasit Penghisap Darah Ini Bisa Jadi Obat Autoimun

Penemuan Terbaru! Parasit Penghisap Darah Ini Bisa Jadi Obat Autoimun

Dalam studi terkini yang terbit di jurnal Structure bulan Februari 2026, para ilmuwan dari Monash University Biomedicine Discovery Institute mengungkapkan bahwa protein unik dari kutu dapat menjadi kunci untuk pengobatan penyakit autoimun dan peradangan kronis. Protein ini, yang disebut evasin, mampu menghalangi sinyal kemokin, sehingga memungkinkan kutu menghisap darah inang tanpa terdeteksi oleh sistem kekebalan tubuh.

Sistem kekebalan tubuh manusia bergantung pada kemokin sebagai alat komunikasi untuk merespons ancaman. Ketika menyadari mikroba atau benda asing, kemokin berfungsi seperti alarm, mengirimkan pesan ke sel-sel imun untuk menyerang penyusup. Namun, kutu mengadaptasi mekanisme ini dengan melepaskan evasin selama proses menghisap darah. Protein ini memblokir kemokin sebelum sistem imun sempat merespons, sehingga meminimalkan reaksi inflamasi.

Kutu dikenal menghasilkan campuran evasin yang menargetkan berbagai kemokin, memungkinkan mereka bertahan lama di inang. Dalam penelitian ini, Prof. Martin Stone dan Dr. Ram Bhusal menemukan evasin baru yang lebih efektif. Berbeda dari jenis sebelumnya yang hanya menghambat satu kelompok kemokin, evasin ini mampu memblokir dua kelas utama secara bersamaan.

Mekanisme Inovatif dalam Penelitian

Dr. Shankar Raj Devkota mengatakan, kemampuan evasin bekerja ganda ini menawarkan peluang terapeutik besar. “Penemuan ini bisa mengarah ke pengembangan terapi baru untuk mengatasi penyakit seperti rheumatoid arthritis dan multiple sclerosis, yang dipicu oleh aktivitas kemokin berlebihan,” tambahnya.

“Kami berhasil mengidentifikasi evasin alami yang mampu menekan kedua kelas utama kemokin. Ini merupakan kemajuan signifikan dalam bidang ini,” jelas Surendra Kunwar, dilansir Scitechdaily, dikutip pada 5 April 2026.

Proses ini tidak hanya relevan untuk penyakit autoimun, tetapi juga terkait dengan kondisi inflamasi kronis lainnya, termasuk kerusakan jaringan pada kanker. Meskipun terdapat pengobatan yang tersedia, kebutuhan akan terapi lebih efektif tetap tinggi untuk mencegah progresi penyakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *