What Happened During: Perajin besek bambu Kabupaten Magetan bertahan ikuti permintaan pasar
Perajin Besek Bambu Kabupaten Magetan Bertahan Ikuti Permintaan Pasar
Di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, para perajin besek dari bahan baku bambu masih eksis dan diminati masyarakat. Mereka terus berkreasi untuk memenuhi selera konsumen. Mbak Indah, seorang perajin setempat, menyatakan bahwa inovasi menjadi kunci agar usaha mereka tetap relevan. “Banyak perajin di sini fokus pada besek. Dulu, bentuknya sederhana, hanya kotak polos dan tanpa variasi,” ujarnya.
“Namun seiring waktu, para perajin mulai menghadirkan berbagai bentuk dan warna. Kami belajar dari permintaan konsumen, termasuk dari gambar yang mereka lihat,” tambah Mbak Indah.
Masuknya era pandemi COVID-19 justru memperkuat permintaan terhadap produk mereka. Besek yang sebelumnya dikenal sebagai wadah tradisional kini menjadi pilihan utama untuk menyimpan makanan yang dibawa pulang. Mbak Indah mengakui bahwa pesanan meningkat secara signifikan. “Dari situ, inovasi mulai berkembang,” katanya.
Saat ini, setidaknya tujuh desain besek telah dikembangkan dengan tingkat kesulitan berbeda. Salah satu yang paling menantang adalah besek kecil dengan pegangan tambahan, yang memerlukan ketelitian dalam anyaman. Mbak Indah juga menekankan bahwa warna dan model bisa disesuaikan dengan keinginan pembeli, mulai dari warna merah, hijau hingga kombinasi cerah.
Menurutnya, harga besek bervariasi. Produk ukuran kecil dijual mulai dari Rp4.000 per unit, sementara besek desain khusus bisa mencapai Rp20.000. Produksi dilakukan harian, tergantung jenisnya. Untuk pesanan spesial, produksi diatur berdasarkan permintaan. Selain itu, ia tidak bekerja sendirian, melainkan menerima hasil anyaman dari tetangga sekitar.
Bahan utama mereka, bambu, juga mudah ditemukan. Kadang ia membeli, kadang mengambil langsung dari rumpun di sekitar desa. “Ketersediaan bahan ini menjadi salah satu alasan mengapa kerajinan bambu tetap hidup di wilayah Magetan,” katanya.
Pemasaran besek buatan Mbak Indah tidak terbatas pada pasar lokal. Produk tersebut telah menembus pasar luar daerah. Penjualan dilakukan secara langsung maupun daring melalui media sosial. Dengan kebijakan pemerintah yang membatasi penggunaan kantong plastik, besek dan tas anyaman bambu semakin diminati.
Kabupaten Magetan terkenal sebagai sentra industri anyaman bambu utama di Jawa Timur. Dengan sekitar 5.700 unit pelaku usaha, sektor ini menyumbang hingga 85,69 persen perekonomian daerah. Desa Ringinagung dan Desa Nitikan dikenal sebagai penghasil keranjang bambu, sementara Desa Durenan terkenal dengan besek. Banyak desa lain di Magetan juga memiliki keahlian dalam bidang ini.