Analis: Livin’ by Mandiri alami pertumbuhan pengguna tercepat
Analis: Livin’ by Mandiri Tumbuh Pesat dalam Penggunaan Digital
Jakarta – Seorang analis pasar senior dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, mengungkapkan bahwa aplikasi super app Livin’ by Mandiri (Livin’) mencatatkan peningkatan jumlah pengguna yang sangat signifikan. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini berkontribusi besar terhadap pendapatan berbasis biaya (Fee-Based Income). Di sisi lain, digitalisasi yang efektif memungkinkan PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) mengurangi rasio biaya terhadap pendapatan (Cost to Income Ratio), sehingga efisiensi operasional semakin terlihat jelas.
“Proses digitalisasi ini tidak hanya menekan CIR, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan keuntungan operasional, yang kini menjadi fokus utama BMRI dalam persaingan dengan perusahaan-perusahaan lain,” kata Nafan dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu.
Menurut Nafan, keunggulan BMRI juga terletak pada ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan integrasi dengan Danantara. Dengan konsolidasi aset negara, bank tersebut diperkirakan akan membutuhkan layanan perbankan korporasi yang kompleks, seperti manajemen kas dan sindikasi kredit. Semua hal ini menjadi keahlian utama BMRI.
Ekosistem dan Peluang Pembiayaan
Analisis tersebut juga menyoroti potensi pertumbuhan ekonomi, pengembangan infrastruktur, serta hilirisasi industri dan sektor energi. Diperkirakan kebutuhan pembiayaan besar dan kredit korporasi akan meningkat, yang berdampak positif pada kinerja BMRI. Dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki, bank besar ini dipandang sebagai pilihan strategis bagi para investor.
Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, menambahkan bahwa volume transaksi melalui Livin’ by Mandiri terus naik hingga Februari 2026. Data menunjukkan lebih dari 738,7 juta transaksi sejak awal tahun, naik sekitar 28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Peningkatan ini didorong oleh penggunaan layanan digital yang semakin luas, baik untuk kebutuhan pribadi maupun bisnis,” ujarnya.
Dalam konteks ini, transaksi digital tidak hanya menjadi alat pembayaran tagihan, tetapi juga memperkuat peran Bank Mandiri dalam mendukung ekonomi masyarakat. Akses yang lebih praktis, cepat, dan inklusif juga diperkirakan meningkatkan keterlibatan pelaku usaha, termasuk UMKM.
Peningkatan Pendapatan Berbasis Komisi
Seiring dengan trend transaksi digital, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income). Dari platform digitalnya, pendapatan ini mencapai Rp625 miliar, naik 45,3% YoY. Sementara itu, platform wholesale Kopra by Mandiri mencatatkan Rp421 miliar, tumbuh 29,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Nafan juga menyoroti tingkat dividen yield yang menarik, yaitu sekitar 8,80 persen, serta potensi return total yang menjadi daya tarik bagi investor yang mencari imbal hasil berupa pendapatan dan keuntungan kapital.