New Policy: Mentan Blak-Blakan RI Masih Impor Menir, Padahal Stok Beras Melimpah
Mentan Blak-Blakan RI Masih Impor Menir, Padahal Stok Beras Melimpah
Minggu (5/4/2026), Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa impor beras pecah atau menir masih terus dilakukan oleh Indonesia meskipun stok beras nasional dalam kondisi melimpah. Ia menyarankan bahwa kebutuhan industri bisa dipenuhi dari beras utuh yang tersimpan di gudang, dengan cara mengolahnya menjadi menir sesuai kebutuhan. Hal ini muncul sebagai respons atas diskusi seputar proses pengolahan beras oleh Perum Bulog yang telah memecah beras menjadi tepung.
Langkah Hilirisasi Sebagai Solusi Impor
Amran menegaskan bahwa mengimpor menir tidak lagi diperlukan jika pemerintah mampu mengolah beras nasional secara langsung. “Tidak harus impor, karena beras kita cukup,” ujarnya saat diwawancara di Gudang Bulog Panaikang, Makassar. Menurutnya, industri bisa memperoleh beras pecah dengan memecah beras utuh yang tersedia, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.
“Itu bagus. Karena ada impor menir, kan? Daripada mengimpor, kita cukup giling sendiri. Kita punya beras bagus, jadi bisa dibuat menir,”
Menurut Amran, proses pemecahan beras menjadi menir bisa menjadi solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan industri tanpa harus mengandalkan impor. “Pemecahan beras itu bagus. Seluruh sektor bisa tertutup, kita manfaatkan saja dari stok dalam negeri,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa saat ini impor menir mencapai ratusan ribu ton per tahun, padahal stok beras di dalam negeri cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Data Impor Beras Tahun 2025
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), impor beras pada Oktober 2025 mencapai 40,7 ribu ton. Jika dihitung kumulatif sepanjang Januari hingga Oktober 2025, total impor mencapai 364,3 ribu ton dengan nilai US$178,5 juta atau setara Rp2,97 triliun. Semua impor tersebut berupa beras khusus untuk industri, bukan beras konsumsi umum.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Moch Arief Cahyono, menyebut bahwa beras impor yang masuk ke Indonesia mayoritas berupa beras pecah 100% atau menir (HS 1006.40.90), digunakan sebagai bahan baku industri. Selain itu, impor juga mencakup beras untuk kebutuhan khusus seperti penderita diabetes, serta varietas spesial untuk restoran dan hotel.
Amran menambahkan bahwa ia telah meminta jajaran Bulog untuk segera menerapkan langkah ini. “Saya sudah meminta mereka tindak lanjuti, ada yang minta? Berikan saja. Kita sudah menyewa kapasitas 2 juta ton,” katanya. Ia yakin hilirisasi beras bisa dilakukan kapan saja, mengingat stok beras saat ini dalam kondisi memadai.
Varletas Khusus yang Masih Diimpor
Dalam wawancara tersebut, Amran juga menyebut bahwa impor beras tidak hanya untuk menir, tetapi juga varietas spesifik seperti basmati, jasmine, dan japonica yang tidak diproduksi di dalam negeri. Menurutnya, dengan memperluas hilirisasi, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan memaksimalkan potensi stok beras yang ada.