New Policy: Banjir Palembang Rendam Sejumlah Wilayah, Warga Berharap Solusi Permanen
Banjir Palembang Menggenangi Wilayah, Warga Mengharapkan Solusi Permanen
Pada hari Minggu, hujan deras yang mengguyur Kota Palembang selama tiga jam menyebabkan banjir menggenangi sejumlah permukiman dan jalan utama hingga ketinggian 30 sentimeter. Fenomena ini memicu gangguan lalu lintas dan keluhan masyarakat, dengan genangan air yang menghambat aktivitas sehari-hari. Beberapa ruas jalan protokol dan kawasan hunian warga terkena dampak signifikan, termasuk area yang dianggap vital bagi kehidupan kota.
Banjir kembali melanda Palembang, Sumatera Selatan, pada siang hingga sore hari setelah hujan lebat yang berkepanjangan. Ketinggian air mencapai lebih dari 30 sentimeter, mengakibatkan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun empat, mogok di tengah genangan. Hal ini meningkatkan kerugian bagi warga yang terjebak di jalan. Menurut pengakuan Faizah Khairunnisa, penduduk dari kawasan Sekip Ujung Palembang, kondisi ini menjadi rutinitas yang melelahkan setiap musim hujan.
“Kami berharap kepada Pemkot Palembang membuat program pengendalian banjir yang lebih baik, sehingga pada saat hujan lebat turun tidak menimbulkan genangan air di mana-mana,” ujar Faizah, yang mewakili aspirasi warga lainnya.
Sejumlah wilayah seperti Sekip Bendung, Angkatan 66, Mayor Ruslan, Dwikora, dan area belakang kampus lama UIN Raden Fatah Palembang terdampak paling parah. Warga di sana harus berjuang melewati air yang menggenangi untuk beraktivitas. Selain permukiman, genangan juga menjangkau ruas jalan utama seperti Jalan Soekarno Hatta, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II KM 11, Jalan Jepang Kecamatan Alang-Alang Lebar, dan Kolonel Barlian.
Kemacetan yang terjadi akibat banjir mengganggu mobilitas warga dan memperlambat arus ekonomi lokal. Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi, menciptakan kekhawatiran terhadap keberlanjutan penanganan. Pemerintah kota diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk mencegah banjir berulang. Pemetaan daerah rawan banjir dijelaskan sebagai upaya mempercepat respons saat kejadian serupa terjadi.
Sebagai langkah antisipatif, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, telah membentuk satuan tugas (satgas) khusus yang terdiri dari gabungan organisasi perangkat daerah (OPD). Satgas ini siap diterjunkan ke lokasi tertentu untuk mengatasi genangan secara cepat. Menurut Ratu Dewa, tim akan bertindak segera saat hujan berlangsung lebih dari satu jam dan menyebabkan air meluap ke berbagai titik kritis.
Banjir juga melanda Kebon Pala, Jakarta Timur, hingga 1,5 meter lebih. Situasi ini menunjukkan bahwa masalah pengendalian air tidak hanya terjadi di Palembang, tetapi juga menghiasi daerah lain. Warga mengungkapkan kekecewaan terhadap infrastruktur yang tidak mampu menampung volume air hujan besar dalam waktu singkat. Mereka mendesak pemerintah mencari solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk mencegah permasalahan serupa terulang.