Special Plan: Perubahan Sistem Pelatnas Para Panahan Tingkatkan Daya Saing Atlet Indonesia di Kancah Internasional

Perubahan Sistem Pelatnas Para Panahan Tingkatkan Daya Saing Atlet Indonesia di Kancah Internasional

Setelah penerapan sistem persaingan baru di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) para panahan Indonesia, performa para atlet terbukti meningkat. Dengan adanya sistem yang lebih ketat, mental dan kompetensi mereka menjadi lebih tajam, terutama setelah muncul hasil membanggakan dalam World Archery Para Series – Bangkok 2026.

Dalam ajang yang berlangsung 30 Maret hingga 4 April, Indonesia berhasil meraih tiga medali emas, satu perak, dan dua perunggu. Kemenangan ini menempatkan tim para panahan di peringkat kedua klasemen akhir, di bawah India yang mengoleksi tujuh emas, tiga perak, dan tiga perunggu. Prestasi ini menjadi bukti bahwa perubahan dalam pelatnas telah memberikan dampak nyata.

Kebijakan strategis yang diambil tim pelatih mencakup penambahan jumlah atlet per kategori. Dari sebelumnya dua orang, kini menjadi tiga, sehingga memicu persaingan lebih intens. Sistem ini mengharuskan setiap atlet memberikan performa terbaik untuk memperoleh slot ke kompetisi internasional. Menurut Rameez Ali Surya Negara, perubahan ini memaksa atlet terus berkembang tanpa ketergantungan pada zona nyaman.

“Perubahan sistem kompetisi internal ini menciptakan mental atlet yang lebih kuat. Yang tadinya mungkin merasa nyaman, dengan sistem yang sekarang mereka ada pacuan tersendiri,” ujar Rameez.

Hasil yang diukir di Bangkok 2026 menggarisbawahi keberhasilan strategi pelatnas. Atlet yang bersaing lebih ketat, seperti Kholidin (recurve putra), Noviera Ross/Riyanti Ananda (recurve beregu putri), dan Riyanti Ananda/Kholidin (recurve beregu campuran), menjadi contoh nyata kemajuan yang dicapai. Sementara itu, Arif Firmansyah/Teodora Audi Ayudia Ferelly meraih perak di compound beregu campuran, dan Setiawan serta Riyanti Ananda berhasil menyumbang medali perunggu.

Kebijakan ini didukung penuh oleh National Paralympic Committee (NPC) Indonesia dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Keduanya berperan dalam memperkuat program pembinaan serta menambah jumlah atlet di pelatnas. Sinergi antara lembaga tersebut menjadi fondasi penting untuk peningkatan prestasi. Tim pelatih optimis bahwa keberlanjutan kompetisi internal akan mendorong atlet mencapai level tertinggi.

Masa depan para panahan Indonesia juga menantikan tantangan besar, seperti Asian Para Games 2026 dan kualifikasi Paralimpiade Los Angeles 2028. Fokus saat ini adalah memastikan atlet siap menghadapi event-event tersebut dengan performa maksimal, yang diharapkan menjadi batu loncatan menuju kesuksesan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *