Latest Program: Rupiah dan Minyak Dunia Jadi Ujian Berat IHSG, Cek Proyeksi Pasar Saham RI Pekan Ini
Rupiah dan Minyak Dunia Jadi Ujian Berat IHSG, Cek Proyeksi Pasar Saham RI Pekan Ini
JAKARTA – Pasar saham Indonesia mengalami pekan penuh tantangan, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.026 pada Rabu, 2 April 2025. Penurunan sebesar -0,99% dibandingkan pekan sebelumnya dipengaruhi oleh libur nasional Jumat Agung yang memengaruhi aktivitas trading. Investor asing mencatatkan outflow mencapai Rp2,8 triliun di pasar reguler selama periode tersebut.
Sentimen Global dan Domestik Menggerogoti Pasar
Analisis dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menyebutkan bahwa IHSG masih terdampak oleh dua sentimen utama: geopolitik dan ekonomi domestik. Dalam konteks internasional, ketegangan antara Donald Trump dengan Iran menjadi sorotan, dengan ancaman serangan AS memicu kepanikan investor global. Mereka cenderung beralih ke aset aman sebagai langkah pencegahan.
“Kombinasi kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan Rupiah menyebabkan IHSG menghadapi tekanan signifikan,” kata David Kurniawan, Equity Analyst IPOT.
Sementara di dalam negeri, Program B50 yang diumumkan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto berpotensi memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Peningkatan kadar biodiesel dari 40% ke 50% pada 1 Juli dikhawatirkan akan mendorong kenaikan harga minyak goreng, sekaligus memberikan dampak negatif pada sektor Consumer Goods.
Proyeksi IHSG dan Rupiah Masih Mengkhawatirkan
Kondisi ekonomi Indonesia saat ini terancam oleh dua faktor utama: harga minyak yang melonjak dan nilai tukar Rupiah yang melemah. Jika harga minyak mentah bertahan di atas USD100 per barel, subsidi energi dalam APBN akan meningkat drastis, berpotensi mengganggu batas defisit fiskal yang stabil.
“Rupiah yang menyentuh Rp17.000 per Dolar AS membuat biaya impor bahan baku naik, yang secara otomatis memicu inflasi domestik,” tambah David.
Diperkirakan IHSG akan terus melemah dalam minggu mendatang, dengan level dukungan di 6.700 dan resistensi di 7.250. Proyeksi ini didasarkan pada metode MSCI yang telah diprediksi pasar sebelumnya, serta penyesuaian komposisi kepemilikan saham yang tinggi.