Key Strategy: Trump Ucap Alhamdulillah saat Desak Iran: Buka Hormuz Atau ke Neraka!
Trump Ancam Iran: Buka Selat Hormuz atau Terjebak Neraka
Dalam sebuah postingan di media sosial pribadinya, Truth Social, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam Iran. Ancaman tersebut ditujukan untuk memaksa Teheran membuka Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak global, atau siap menghadapi konsekuensi serius. Ucapan “Alhamdulillah” yang terdengar dalam unggahannya menunjukkan kepuasan Trump terhadap ancaman itu.
Permintaan untuk Buka Akses
Dalam postingannya, Trump menyebutkan bahwa jika Iran tidak segera membuka Selat Hormuz, AS akan menyerang fasilitas publik seperti pembangkit listrik dan jembatan. “Selasa akan menjadi ‘Hari Pembangkit Listrik’ dan ‘Hari Jembatan’, semuanya digabung menjadi satu di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, brengsek, atau kalian akan hidup dalam neraka. LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah,” tulis Trump dalam
postingannya.
Trump juga menyebutkan jam operasi yang sepertinya merujuk pada waktu bagian Timur AS, yaitu pukul 20.00, sebagai waktu penyerangan terhadap Iran. Ancaman ini bukan pertama kalinya dilontarkan; pada 26 Maret, ia telah meminta Iran membuka akses ke Selat Hormuz.
Komentar dari Iran
Para pejabat Iran mengecam tindakan Trump. Utusan PBB di Iran menyampaikan kekhawatiran terhadap ancaman tersebut. “Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur yang penting bagi kehidupan warga sipil Iran,” kata utusan itu, dikutip Al Jazeera. Ia menambahkan, “Komunitas internasional dan semua negara punya kewajiban hukum untuk mencegah tindakan kejahatan perang yang keji itu. Mereka harus bertindak sekarang.”
Iran juga bersumpah akan membalas setiap serangan dari AS atau sekutunya, Israel. Meski Trump mengatakan sedang berupaya menegosiasikan gencatan senjata, Iran tetap menolak membuka akses Selat Hormuz bagi AS, sekutu, serta afiliasinya.
Penyerangan dan Konsekuensi
AS dan Israel telah melakukan gempuran terhadap Iran sejak 28 Februari, memasuki lima pekan. Serangan ini menyebabkan kematian Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta ribuan warga sipil. Dalam balasan, Iran langsung meluncurkan serangan terhadap Israel dan aset AS di wilayah Teluk. Penutupan Selat Hormuz sebagai respons terhadap gempuran memicu kekhawatiran krisis energi di berbagai daerah.
Sejumlah negara mengambil langkah khusus untuk mengatasi potensi gangguan pasokan energi. Contohnya, mereka meminta pegawai negeri bekerja dari rumah dan membatasi pembelian bahan bakar minyak. Meski ancaman Trump berulang, Iran tetap bertahan dengan sikap penolakan mereka.