Lifestyle

Meeting Results: Larangan Hari Tasyrik dan Amalan Setelah Idul Adha bagi Umat Islam

Larangan Puasa dan Amalan pada Hari Tasyrik untuk Umat Islam Meeting Results - Idul Adha, yang dirayakan selama tiga hari, menjadi momen penting dalam

Desk Lifestyle
Published Mei 28, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Larangan Puasa dan Amalan pada Hari Tasyrik untuk Umat Islam

Meeting Results – Idul Adha, yang dirayakan selama tiga hari, menjadi momen penting dalam kalender Islam. Bagi umat Muslim, memahami aturan yang berlaku di hari-hari Tasyrik—yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah—diperlukan agar tidak melanggar syariat yang telah ditetapkan. Dalam konteks ini, larangan puasa di hari Tasyrik memegang peran kunci, sebagaimana dijelaskan oleh lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Asal Usul Nama “Tasyrik”

Dalam bahasa Arab, “tasyrik” atau “tasyriq” berasal dari kata masdar “syarraqa,” yang memiliki makna “matahari terbit” atau “menjemur sesuatu.” Istilah ini juga berkaitan dengan arah sinar matahari, yang menjadi acuan dalam ritual tertentu. Sejarah penamaan hari Tasyrik terdapat perbedaan pandangan di antara ulama. Seperti dijelaskan oleh Syekh Ibnu Manzur (711 H) dalam karyanya Lisan al-Arab, terdapat dua pendapat utama mengenai hal ini.

Pendapat pertama menyebutkan bahwa Tasyrik terkait dengan tradisi masyarakat awal yang mengandalkan teknik pengawetan alami. Sebelum adanya alat pendingin seperti kulkas, daging hasil qurban disimpan dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Langkah ini dilakukan untuk memperpanjang masa simpan daging yang melimpah selama Idul Adha, sehingga bisa digunakan sebagai cadangan makanan. Pendapat kedua menekankan pelaksanaan ritual qurban yang terjadi setelah matahari terbit, dengan menyebut hari Tasyrik sebagai masa di mana aktivitas seperti mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid dianjurkan.

Larangan Puasa dalam Hadits Nabi

Menurut hadits Nabi Muhammad SAW, hari Tasyrik adalah masa yang dilarang untuk berpuasa. Dalam hadits tersebut, beliau menjelaskan bahwa puasa tidak diperbolehkan selama tiga hari itu, kecuali bagi individu yang tidak memiliki kesempatan mendapatkan hewan qurban. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu anhuma menyatakan: “

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَا لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ

” yang berarti, “Tidak diperkenankan berpuasa pada hari Tasyrik kecuali bagi siapa yang tidak bisa memperoleh hewan qurban saat menjalani ibadah haji.” (HR. Bukhari, no. 1859)

Larangan puasa ini berdasarkan prinsip bahwa hari-hari Tasyrik dimaksudkan untuk menikmati hasil dari qurban. Daging yang dihasilkan dari hewan qurban biasanya tersedia dalam jumlah besar, sehingga dianggap lebih baik untuk merayakannya secara bersama. Selain itu, ulama memandang bahwa puasa di hari tersebut akan mengurangi kebahagiaan yang seharusnya dirasakan umat Islam selama hari raya.

Amalan yang Dianjurkan di Hari Tasyrik

Selain larangan puasa, ada beberapa amalan yang dianjurkan pada hari Tasyrik. Pertama, umat Islam disarankan untuk memperbanyak membaca takbir setelah melaksanakan shalat fardhu. Menurut keputusan para ulama, bertakbir atau takbiran pada hari raya merupakan hal yang disyariatkan. Ini mencerminkan kegembiraan dan syukur atas anugerah dari Allah.

Kedua, selama tasyrik, umat Muslim dianjurkan untuk makan dan minum secara berlebihan. Tujuan utamanya adalah memperkuat semangat dan kebahagiaan yang dirasakan pada momen Idul Adha. Selain itu, berdzikir kepada Allah juga diperintahkan, terutama selepas shalat lima waktu. Berdzikir ini mencakup membaca takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid, sebagai bentuk pengingat akan keberadaan Sang Pencipta.

Yang menarik, tidak ada larangan khusus terkait hubungan suami-istri di hari Tasyrik. Larangan utama hanya berlaku untuk puasa. Hal ini menunjukkan bahwa hari-hari tersebut adalah waktu untuk bersuka cita, bukan untuk mengurangi kegembiraan. Sebaliknya, makan dan minum menjadi bagian dari ibadah yang dianjurkan, karena daging qurban adalah simbol keberkahan yang harus dimanfaatkan secara optimal.

Perbedaan Pandangan dalam Ulama

Beberapa ulama memiliki pandangan yang berbeda mengenai durasi hari Tasyrik. Menurut Miqsam, yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas, hari-hari Tasyrik mencakup empat hari, mulai dari Hari Raya Kurban hingga tiga hari berikutnya. Namun, Ali ibnu Abu Talib ra menyatakan bahwa hari Tasyrik hanya terdiri dari tiga hari, yaitu Hari Raya Kurban dan dua hari sesudahnya. Meski terdapat perbedaan ini, keduanya sepakat bahwa hari-hari tersebut adalah masa untuk merayakan hasil qurban.

Dalam konteks praktis, umat Islam dianjurkan untuk mengonsumsi daging qurban dengan penuh syukur. Kebiasaan ini berlaku di banyak wilayah, di mana daging tersebut dibagikan kepada kerabat, tetangga, dan orang-orang yang membutuhkan. Larangan puasa berlaku karena pada tiga hari ini, daging qurban menjadi sumber utama kebutuhan makan. Umat Islam diminta untuk menjaga rasa syukur dan kebahagiaan dengan menghabiskan waktu bersama keluarga serta berbagi makanan.

Pada hari Tasyrik pertama, yang biasanya jatuh pada tanggal 11 Dzulhijjah, umat Muslim dianjurkan untuk menjalankan ritual khusus. Menurut ulama, hari ini memiliki makna istimewa karena merupakan hari pertama dari rangkaian Idul Adha. Dalam hadits, Nabi SAW menekankan bahwa makan dan minum adalah bagian dari ibadah yang harus dilakukan pada hari-hari tersebut.

Menurut penjelasan yang disampaikan, tidak ada larangan berhubungan suami-istri di hari Tasyrik. Larangan ini hanya terkait dengan puasa. Dengan demikian, umat Islam bebas menjalani kehidupan sehari-hari selama tiga hari tersebut, asalkan tetap mematuhi aturan yang telah ditetapkan.

Pada hari Tasyrik, kegiatan seperti berdzikir dan mengumandangkan takbir menjadi bagian dari rutinitas. Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk merayakan hari-hari tersebut dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan. Ini adalah momentum untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, terutama dalam bentuk daging qurban yang melimpah.

Secara keseluruhan, hari Tasyrik memiliki makna khusus dalam agama Islam. Ia bukan hanya tentang larangan puasa, tetapi juga tentang amalan-amalan yang dianjurkan. Dengan memahami makna dan aturannya, umat Muslim dapat memaksimalkan makna spiritual serta kebahagiaan yang ditawarkan oleh hari-hari ini.

Leave a Comment