Key Strategy: Awas, jebakan di dalam layar siap menjerat anak-anak
Awas, Jebakan dalam Layar Menyerang Anak-anak
Jakarta – Tantangan dalam dunia digital semakin mengkhawatirkan, terutama dalam menjerat anak-anak melalui rayuan atau hubungan emosional yang dibangun secara online. Kebiasaan menggunakan gawai memberi akses yang mudah, sehingga risiko kekerasan seksual terhadap anak meningkat pesat. Fenomena ini dikenal sebagai child grooming, yakni tindakan manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa untuk memperkuat ketergantungan anak dan mengontrolnya secara terperinci.
Mekanisme Manipulasi
Child grooming mencakup langkah-langkah seperti membangun hubungan awal, memberi perhatian, atau hadiah untuk memperoleh kepercayaan anak. Setelah keintiman terjalin, pelaku memulai proses isolasi. Mereka bisa meminta anak mengirimkan foto atau video pribadi, bahkan mengancam jika tidak mematuhi permintaan. Proses ini membuat anak merasa terjebak karena merasa tidak punya pilihan.
“Biasanya, pelaku menciptakan kesan bahwa korban tidak memiliki cara untuk segera meminta bantuan, karena dominasi relasi kuasa mereka,” kata Tenaga Ahli Psikolog Klinis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta, Meinita Fitriana Sari.
Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) DKI Jakarta menegaskan bahwa child grooming bisa terjadi secara langsung maupun melalui ruang digital. Di era AI, ancaman ini semakin kompleks, karena teknologi memungkinkan pelaku menyamar identitas dan memanipulasi media untuk memperdaya korban.
Statistik Kekerasan Seksual
Dari laporan UPT PPA DKI Jakarta, jumlah anak yang menjadi korban kekerasan seksual dalam tiga tahun terakhir, Januari 2023 hingga 12 Maret 2026, mencapai 1.422 orang. Secara nasional, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 2.063 kasus kekerasan seksual pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan bahwa anak-anak tetap menjadi kelompok rentan di tengah kemajuan teknologi.
Datanya dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) juga menegaskan hal serupa. Dalam 2025, sebanyak 1.776 pemohon perlindungan dalam tindak pidana seksual diterima dari total 13.027 permohonan. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.464 korban berusia anak. Dengan adanya AI, penjebakan melalui layar bisa terjadi lebih cepat dan mengakibatkan trauma yang lebih dalam.
Strategi DKI Jakarta
DPPAPP DKI Jakarta menekankan pentingnya pendidikan digital bagi anak, agar mereka mampu membedakan relasi yang sehat dari yang tidak. Dengan meningkatnya interaksi anak dengan teman sebaya, pelaku kekerasan lebih mudah menjangkau korban. Polda Metro Jaya juga mengingatkan bahwa kejahatan seksual pada era digital bisa menimbulkan dampak lebih serius karena teknologi menjadi alat penipuan yang efektif.