Polemik baliho “Aku Harus Mati” – Pram: iklan sensitif, jangan terulang
Polemik Baliho “Aku Harus Mati”, Pram: Iklan Sensitif, Jangan Terulang
Dari Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memberikan pernyataan terkait penghapusan baliho film “Aku Harus Mati” yang dianggap memicu reaksi negatif di kalangan publik. Ia menyoroti bahwa materi iklan tersebut dianggap sensitif, terutama bagi kelompok masyarakat yang mengalami masalah mental seperti depresi atau gangguan kejiwaan.
Pemerintah DKI Jakarta dan KPI Berkoordinasi
Pramono menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan komunikasi dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk mengevaluasi baliho tersebut. Selain itu, ia menyatakan telah meminta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menurunkan penayangan iklan yang kontroversial itu.
“Baliho ini dianggap sensitif, jangan terulang lagi,” ujar Pramono.
Sebaliknya, produser film yang disebutkan Iwet mengklaim bahwa seluruh materi promosi, termasuk desain baliho yang memicu perdebatan, telah melewati penilaian resmi dari lembaga pemerintah sebelum dipasang. Meskipun mendapat tanggapan beragam, mereka menegaskan tetap berpegang pada aturan yang berlaku.
Cerita Film yang Bercerita tentang Kehidupan Hedonistik
Film ini ditulis oleh Aroe Ama dan menceritakan kisah Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik. Untuk mengejar kemewahan, tokoh utama terlibat dalam utang pinjaman online serta layanan paylater. Di tengah kesulitan, Mala kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan, bertemu kembali dengan teman masa kecilnya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jago (Bambang Paningron).