Key Strategy: PTBA catat peningkatan produksi di tengah tekanan harga batu bara
PTBA Mengalami Peningkatan Produksi di Tengah Tekanan Harga Batu Bara
Jakarta – Dalam tahun 2025, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan peningkatan output dan volume penjualan batu bara, meskipun menghadapi tekanan dari harga global yang menurun. Arsal Ismail, Direktur Utama perusahaan, mengungkapkan bahwa tahun ini menjadi masa yang berat bagi industri batu bara internasional karena perubahan signifikan pada harga pasar dibandingkan periode sebelumnya.
“PT Bukit Asam berupaya mempertahankan operasional yang stabil dan menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi kondisi tersebut,” tutur Arsal dalam acara pers di Jakarta, Senin.
Peningkatan Produksi dan Penjualan
Menurut Arsal, produksi perusahaan naik sebesar 9 persen, mencapai total 47,2 juta ton. Sementara itu, penjualan juga mengalami kenaikan 6 persen, yaitu 45,4 juta ton. Angka ini sejalan dengan kenaikan volume pengangkutan batu bara, yang meningkat 6 persen menjadi 40,4 juta ton dari 38,2 juta ton pada 2024.
Indeks Harga Batu Bara Turun
Arsal menambahkan, penurunan harga batu bara terasa jelas, baik pada indeks Newcastle maupun Indonesian Coal Index (ICI), yang menjadi dasar penjualan perusahaan. “Indeks Newcastle mengalami penurunan hingga 25 persen, sementara ICI, khususnya ICI 3, turun sekitar 16 persen secara tahunan,” jelasnya.
Diversifikasi Pasar Ekspor
Pada sisi penjualan, PTBA menjaga keseimbangan antara pasar dalam negeri dan luar negeri, dengan rasio 54 persen untuk domestik serta 46 persen untuk ekspor. Arsal menekankan bahwa porsi penjualan dalam negeri mencerminkan komitmen perusahaan dalam memastikan pasokan energi lokal. Di sektor ekspor, perusahaan juga melakukan ekspansi ke pasar baru seperti Bangladesh, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina. Selain itu, mulai menjangkau Eropa melalui negara-negara seperti Spanyol dan Rumania.
Kinerja Keuangan pada Tahun 2025
Dalam tahun buku 2025, PTBA mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun, dengan EBITDA mencapai Rp6,08 triliun dan margin EBITDA sekitar 14 persen. Arsal menegaskan bahwa kondisi keuangan perusahaan tetap terjaga, dengan total aset meningkat menjadi Rp43,92 triliun dan arus kas operasi tumbuh 24 persen.
Meski harga batu bara global memengaruhi profitabilitas, Arsal meyakinkan bahwa fondasi operasional perusahaan tetap sehat. Ia percaya bahwa kekuatan fundamental, strategi yang fleksibel, dan dukungan dari para pemangku kepentingan akan memastikan pertumbuhan berkelanjutan serta nilai tambah jangka panjang bagi seluruh stakeholder.