Latest Program: Pelaku ekonomi kreatif harus mampu jawab tantangan kelola keuangan
Pelaku Ekonomi Kreatif Harus Mampu Jawab Tantangan Kelola Keuangan
Di Palu, pendiri Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menekankan bahwa para pelaku ekonomi kreatif yang berkembang saat ini perlu menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan. Dalam pelatihan bertajuk “Creative Wealth Bootcamp: Financial Literacy & Communication Strategy for Creators”, pihaknya menggagas solusi untuk mengatasi permasalahan nyata yang dihadapi pelaku ekraf, terutama terkait pengelolaan dana dan strategi keuangan.
Pelatihan Meningkatkan Literasi dan Keterampilan
Mardiyah menyebutkan, semakin banyak generasi muda mampu menghasilkan pendapatan secara mandiri karena pertumbuhan sektor ekonomi kreatif. Namun, masih ada yang mengalami kesulitan seperti pendapatan yang tidak konsisten, kurangnya sistem keuangan terstruktur, hambatan dalam menetapkan harga produk, serta ketidaktahuan terhadap layanan keuangan resmi.
“Pendekatan kami tidak hanya menekankan literasi keuangan, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut diubah menjadi tindakan nyata dan keputusan finansial yang lebih baik,” ujarnya.
Partisipasi dari Berbagai Kalangan
Sebanyak 200 peserta, yang terdiri dari mahasiswa, pelaku ekonomi kreatif, dan generasi muda di Kota Palu, mengikuti pelatihan literasi keuangan. Tujuan utamanya adalah memperkuat kemampuan pengelolaan dana dan meningkatkan kapasitas dalam mengembangkan usaha berbasis kreativitas.
Pelatihan ini merupakan hasil kolaborasi komunitas Hannah Asa Indonesia dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Bursa Efek Indonesia (BEI).
Risiko Investasi dan Strategi Komunikasi
Menurut Mardiyah, penipuan digital dan investasi ilegal juga menjadi ancaman bagi generasi muda yang aktif dalam sektor ekraf. Karena itu, program ini mengintegrasikan tiga aspek utama: literasi keuangan, kesadaran investasi, dan strategi komunikasi.
Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konsep, tetapi juga dilatih dalam praktik pengelolaan keuangan, penyusunan arus kas, serta penentuan nilai produk. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan keputusan finansial yang lebih matang.
Pelatihan Investasi dan Kewaspadaan
Dewi Nur, Deputi Kepala Wilayah KP BEI Sulawesi Tengah, mendorong generasi muda untuk mulai berinvestasi sejak awal agar bisa membangun ketahanan finansial. “Investasi bukan tentang menunggu waktu yang tepat, tetapi tentang memulai lebih awal, karena waktu akan membantu pertumbuhan aset secara optimal,” katanya.
Ia menambahkan bahwa jumlah masyarakat yang mulai berinvestasi di pasar modal semakin meningkat, tetapi belum semua memahami risiko dan strategi yang sesuai. Dengan pelatihan ini, diharapkan masyarakat, khususnya mahasiswa dan generasi muda, menjadi investor yang lebih cerdas, rasional, serta teredukasi.
Kolaborasi untuk Literasi Berkualitas
Mardiyah menyatakan bahwa kerja sama dengan Hannah Asa Indonesia dan lembaga pendidikan adalah langkah strategis untuk memperluas literasi keuangan yang berkualitas dan berkelanjutan.
Adam Novriansyah, perwakilan OJK Sulawesi Tengah yang juga Analis PEPK dan LMS, menegaskan perlunya kewaspadaan dalam berinvestasi mengingat meningkatnya risiko penipuan digital. “Jika menemukan indikasi penipuan atau kendala dalam layanan keuangan, masyarakat dapat segera menghubungi layanan konsumen OJK di nomor 157,” katanya.