New Policy: Mengenang Kopda Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang gugur di Lebanon

Mengenang Kopda Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

Di sebuah sudut yang terpencil di Pedukuhan Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat rumah sederhana yang jauh dari keramaian kota. Rumah tersebut menjadi tempat tinggal Pak Senam, ayah dari Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon, seorang prajurit TNI yang gugur pada 29 Maret dalam misi perdamaian di Lebanon.

Hari setelah kabar kepergian Farizal, rumah duka dipenuhi karangan bunga dari berbagai institusi negara dan lembaga. Bunga-bunga itu berjejer sepanjang puluhan meter, menunjukkan dukacita dan penghormatan terhadap pahlawan yang meninggalkan keluarga di usia 28 tahun. Tetangga, tokoh masyarakat, serta rekan-rekan yang akrab dengan Farizal dan keluarganya berkunjung untuk memberikan semangat kepada orang tua.

Pada Sabtu (4/4) malam, jenazah Farizal tiba di rumah duka setelah dibawa pesawat khusus dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Ia diterbangkan bersama jenazah Serka Anumerta M Nur Ichwan, prajurit TNI dari Magelang, Jawa Tengah, yang juga gugur di Lebanon. Kedua jenazah disambut oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono dalam upacara penghormatan terakhir di Lanud Adisutjipto.

Profesi dan Pribadi Kopda Farizal Rhomadhon

Kopda Farizal Rhomadhon, kelahiran Kulon Progo pada 3 Januari 1998, adalah prajurit TNI dari Satuan Yonif 113/Jaya Sakti, di bawah naungan Brigif 25/Siwah, Kodam Iskandar Muda. Sebelum gugur, ia menjabat sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima. Ia memiliki dua bintang jasa, SL Dharma Nusa dan SL Kesetiaan VIII Tahun.

Keluarga dan warga sekitar mengenal Farizal sebagai pribadi disiplin, rajin, serta ramah. Fafa Nur Azila (25), istrinya, dan anak mereka yang berusia dua tahun, Shanaya Almahyra Elshanu, tiba di Kulon Progo beberapa hari setelah jenazah prajurit itu diterima. Fafa mengembangkan usaha jual beli burung kicauan sebagai cara mencari penghasilan.

“Anaknya baik, penurut, dan bekerja keras. Sore sebelum berita kematian, ia masih berbicara via telepon. Cerita baru saja umroh, menantikan bulan April untuk selesai tugas,” ujar Sumijan, kakak Pak Senam, saat menerima para pengunjung di rumah duka.

Sebelum berangkat ke Lebanon, Farizal sempat bertemu keluarga terakhir. Ia memberikan kabar melalui telepon, tetapi tidak menyampaikan pesan khusus. Menurut Sumijan, saat itu Kopda Farizal masih bersemangat mengenai keberhasilan misi perdamaian yang dijalankannya.

Ketua DPRD Kulon Progo, Aris Syarifuddin, menyatakan bahwa Farizal merupakan putra terbaik bangsa yang gugur dalam misi perdamaian. Ia memandang kepergian prajurit tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada negara. Dalam pandangan Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY, penghargaan nasional layak diberikan kepada Farizal dan prajurit TNI lainnya yang gugur di Lebanon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *