New Policy: Kemenkes-YSDS kolaborasi kembangkan BGSI untuk pengobatan terjangkau
Kemenkes dan YSDS Kolaborasi Bangun BGSI untuk Peningkatan Akses Pengobatan
Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan kerja sama dengan Yayasan Satriabudi Dharma Setia (YSDS) dalam pengembangan teknologi Biomedical Genome Science Initiative (BGSI). Tujuan utamanya adalah mendorong terciptanya solusi medis yang lebih murah dan efektif bagi masyarakat. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menilai inisiatif ini penting untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia.
“Kemitraan ini dianggap sebagai peluang strategis untuk mempercepat pemanfaatan genomik dalam bidang kesehatan. Teknologi yang lebih terjangkau akan memungkinkan diagnosis akurat dan terapi tepat sasaran,” papar Menkes saat mengungkapkan di Jakarta, Senin.
Teknologi genomik mengacu pada proses mengidentifikasi kode genetik (DNA) untuk memahami risiko penyakit dan merancang pengobatan sesuai kondisi individu. Di Indonesia, metode ini telah diterapkan dalam mendeteksi kanker, penyakit langka, serta penyakit menular. Potensinya tidak hanya terbatas pada kesehatan, tetapi juga dapat dimanfaatkan di bidang pertanian dan keanekaragaman hayati.
Target Perluasan Akses Genomik di Asia Tenggara
Kemitraan antara Kemenkes dan YSDS bertujuan memperluas akses penggunaan teknologi genomik, dengan target mencakup satu juta genom di kawasan Asia Tenggara. Menkes berharap proyek ini bisa membantu membangun referensi genetik, meningkatkan pengobatan presisi, mengurangi efek samping obat, serta membantu prediksi dan pencegahan penyakit.
Di sisi lain, biaya tinggi menjadi hambatan utama dalam pengembangan riset dan layanan genomik. Untuk mengatasi masalah ini, teknologi terbaru bernama UG200 dikembangkan. Alat ini diharapkan mampu menekan biaya secara signifikan, sehingga dapat digunakan secara luas.
Manfaat Kolaborasi dan Keamanan Data Genomik
Kerja sama ini juga mencakup riset lintas sektor, mulai dari kesehatan hingga pertanian. Protokol yang disusun harus sesuai dengan regulasi kesehatan dan perlindungan data di kawasan tersebut. Vincentius Simeon Weo Budhyanto, Ketua YSDS, menegaskan bahwa kolaborasi ini penting untuk menjaga agar Indonesia tidak tertinggal dalam perkembangan genomik global.
“Kemitraan ini memastikan populasi Asia Tenggara terwakili dalam basis data genomik internasional. Selain itu, akses pengobatan presisi akan lebih merata,” kata Vincentius.
Menurut Vincentius, pengelolaan data genomik akan dijalankan dengan standar keamanan tinggi. Data akan disimpan di dalam negeri, dianonimkan, serta dienkripsi untuk menjaga privasi dan mencegah penyalahgunaan. Dalam jangka panjang, kolaborasi ini diharapkan dapat membangun biobank genetik yang menjadi referensi untuk riset dan pengembangan obat masa depan.