Latest Program: Indonesia wajibkan B50 mulai 1 Juli 2026, hemat subsidi Rp48 triliun
Indonesia Wajibkan B50 Mulai 1 Juli 2026, Hemat Subsidi Rp48 Triliun
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah akan menerapkan kebijakan Biodiesel 50 (B50) sejak 1 Juli 2026. Kebijakan ini bertujuan meminimalkan pengeluaran subsidi sebesar Rp48 triliun melalui penggunaan campuran minyak kelapa sawit (CPO) yang mencapai 50 persen dalam bahan bakar solar.
“Sebagai bagian dari upaya kemandirian energi dan efisiensi, pemerintah menerapkan B50. Kebijakan ini mulai berlaku 1 Juli 2026,” jelas Airlangga dalam konferensi pers terkait langkah-langkah menanggapi dinamika geopolitik global, Selasa.
Airlangga menegaskan Pertamina telah siap mengimplementasikan kebijakan tersebut. Dengan penerapan B50, ia memperkirakan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) fosil akan berkurang sebanyak 4 juta kiloliter (KL) setiap tahun. “Dalam enam bulan, kita akan menghemat dari fosil serta subsidi yang diproyeksikan mencapai Rp48 triliun,” tambahnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti bahwa B50 akan mendorong surplus solar di 2026. “Pengoperasian RDMP Kilang Balikpapan menjadi faktor kunci, karena memungkinkan pemanfaatan biodiesel secara lebih optimal,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan target penerapan B50 dalam forum bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Senin (30/3). Ia menekankan bahwa langkah ini memperkuat ketahanan energi Indonesia terhadap fluktuasi pasokan global. Saat ini, kebijakan B40 sudah berjalan, yang telah mengurangi impor solar sebanyak 3,3 juta kilo liter (kL) dan menekan emisi hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.
Dari data Kementerian ESDM, penggunaan biodiesel domestik Januari hingga Desember 2025 mencapai 14,2 juta kilo liter (kL), atau 105,2 persen dari target Indikator Kinerja Utama (IKU) tahun 2025. Capaian ini berdampak signifikan pada pengurangan impor solar dibandingkan periode sebelumnya. Tahun 2025, kebijakan biodiesel juga berhasil menghemat devisa sebesar Rp130,21 triliun serta meningkatkan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp20,43 triliun.