Key Strategy: Bos PTBA Blak-blakan Laba di 2025 Turun Jadi Rp2,93 Triliun
Direktur Utama PTBA Ungkap Penurunan Laba 2025 Menjadi Rp2,93 Triliun
Jakarta, Perusahaan pelat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengungkapkan bahwa laba bersih tahun 2025 mencapai Rp2,93 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yang terutama dipengaruhi oleh penurunan harga jual batu bara di pasar global. Arsal Ismail, selaku Direktur Utama PTBA, menjelaskan bahwa tahun 2025 menjadi masa yang penuh tantangan bagi industri batu bara secara keseluruhan.
Penurunan Harga Batu Bara Global
Dalam paparan kinerjanya di The Westin, Jakarta, Arsal menyebutkan bahwa indeks harga acuan batu bara Newcastle mengalami penurunan tajam hingga 25% sepanjang tahun lalu. Sementara itu, indeks Indonesian Coal Index (ICI) yang digunakan sebagai acuan perusahaan juga turun 16% secara tahunan. “Penurunan harga batu bara global ini sangat terasa, terutama melalui indeks Newcastle yang merosot 25% dan ICI-3 yang juga terkoreksi 16%. Hal ini berdampak langsung pada penurunan harga jual rata-rata,” kata Arsal dalam wawancara.
Kinerja Operasional PTBA
PTBA berhasil mempertahankan kinerja operasional yang stabil meski menghadapi tekanan harga. Volume produksi meningkat 9% menjadi 47,2 juta ton, sementara volume penjualan tumbuh 6% ke 45,4 juta ton. Kenaikan angkutan batu bara dari 38,2 juta ton pada 2024 menjadi 40,4 juta ton di tahun 2025 mendukung pertumbuhan penjualan tersebut.
Strategi Menghadapi Tantangan
Untuk mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor utama seperti China dan India, PTBA terus memperluas jaringan ke negara-negara lain seperti Bangladesh, Vietnam, Korea Selatan, serta mencoba masuk ke pasar Eropa seperti Spanyol dan Rumania. Dalam upaya menjaga kesehatan keuangan, perusahaan menerapkan efisiensi operasional dan optimasi rantai pasok melalui metode selective mining.
Kinerja Keuangan dan Beban
Pada akhir 2025, PTBA mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp42,65 triliun, turun tipis dari Rp42,76 triliun tahun sebelumnya. Meskipun volume penjualan naik 6% yoy, penurunan harga batu bara menyebabkan harga jual rata-rata menurun 6% yoy. Beban pokok pendapatan juga meningkat 5% menjadi Rp36,39 triliun, yang didorong oleh peningkatan biaya operasional dan bahan bakar akibat kebijakan bauran energi B40.
Di samping itu, beban umum dan administrasi naik 13% yoy menjadi Rp261,88 miliar, sementara beban penjualan tumbuh 3% ke Rp23,58 miliar. Kenaikan biaya ini selaras dengan peningkatan volume penjualan. Arsal menambahkan bahwa arus kas operasi tumbuh 24% dan total aset mencapai Rp43,92 triliun, yang mencerminkan ketahanan bisnis perusahaan meski di tengah fluktuasi pasar global.
“Penurunan harga batu bara global ini tentunya memberikan tekanan, tapi kami berhasil menjaga fondasi keuangan tetap kuat melalui strategi efisiensi dan diversifikasi,” ujar Arsal dalam paparan keuangan.
Sebagai informasi tambahan, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PTBA mencapai Rp2,93 triliun, menurun 43% dibandingkan 2024. Penghasilan keuangan sebesar Rp219,50 miliar turun 12% yoy, seiring dengan anjloknya pendapatan usaha karena pelemahan harga batu bara.