Special Plan: Bukan Iran, Aksi Trump Justru Hadirkan “Neraka” di Negeri Sendiri

Bukan Iran, Aksi Trump Justru Hadirkan “Neraka” di Negeri Sendiri

Jakarta – Ancaman tajam yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait penutupan Selat Hormuz memicu reaksi dari pejabat Iran. Mohammad Baqer Qalibaf, Ketua Parlemen Iran, menyatakan tindakan militer Washington justru memperburuk kondisi, tidak hanya di kawasan Timur Tengah tetapi juga di dalam negeri AS. Pernyataannya, Senin (6/4/2026), menuduh kebijakan perang Trump berpotensi membawa konsekuensi besar bagi rakyat AS.

Trump memperingatkan bahwa Iran akan “hidup dalam neraka” jika jalur pelayaran Selat Hormuz tidak dibuka kembali sebelum Selasa pukul 20.00 waktu Timur AS. Ancaman ini diunggahnya di platform Truth Social, Minggu lalu. Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengancam akan menyerang infrastruktur Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan.

“Langkah-langkah gegabah Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam NERAKA yang mengerikan bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu,” tulis Qalibaf, merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Kritik dari Iran ini muncul setelah Trump mengeluarkan ultimatum terhadap Iran. Penutupan Selat Hormuz, yang diklaim oleh Teheran sebagai tindakan strategis, dipicu oleh serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Tak lama setelah operasi dimulai, Iran menyatakan akan menutup jalur tersebut untuk kapal-kapal yang dianggap sebagai musuh.

Menurut pemerintah Iran, Selat Hormuz akan ditutup untuk jangka waktu yang diperpanjang. Jalur itu merupakan pintu utama pengiriman minyak global, sekitar 20% dari total pengiriman melintasinya. Selain itu, sekitar 20% perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga bergantung pada perairan sempit ini.

Ketegangan berdampak pada pasar energi global. Gangguan lalu lintas di Selat Hormuz mulai mendorong kenaikan harga bahan bakar, termasuk di AS. Kritik terhadap pendekatan Washington juga muncul dari Rusia. Duta besar Rusia di Wina, Mikhail Ulyanov, menyatakan pemerintah AS gagal memahami posisi Iran dalam proses negosiasi.

Menurut Ulyanov, Teheran hanya akan menerima kesepakatan yang dibangun di atas “kompromi yang masuk akal,” bukan tekanan atau ultimatum sepihak dari pihak luar. Ia menambahkan bahwa strategi militer tidak akan memberi manfaat bagi Amerika Serikat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *