Key Discussion: Waspadai “child grooming” dalam relasi sebaya pada anak dan remaja

Waspadai “child grooming” dalam relasi sebaya pada anak dan remaja

Jakarta – Dalam sebuah seminar daring yang diadakan di Jakarta, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes dari Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan bahwa tindakan child grooming dapat terjadi dalam interaksi antar sesama anak atau remaja. Fenomena ini melibatkan manipulasi psikologis untuk meraih keuntungan seksual, dengan cara membangun hubungan kepercayaan dan ikatan emosional yang kuat.

Kasus dalam Lingkungan Pertemanan

Aksi grooming, menurut Ariani, tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi juga bisa terjadi antar remaja yang berusia lebih tua. Hubungan seperti itu sering kali terlewat dari perhatian orang tua karena dianggap biasa dalam kehidupan sosial sehari-hari. “Sering kali, orang tua tidak menyadari bahwa anaknya berinteraksi dengan teman sebaya yang lebih dominan, terutama jika ada ketimpangan usia atau kondisi ekonomi,” jelasnya.

“Biasanya (usia) antara 11 dan 15 tahun, mungkin bisa seperti itu, atau sebaya tapi dia lebih dominan,” tambah Ariani.

Korban biasanya menginginkan penghargaan, pujian, dan perlakuan istimewa, sehingga lebih mudah terjebak dalam pengaruh pelaku. Mekanisme ini dimulai secara bertahap, dengan pelaku membangun kepercayaan sebelum menekan dan memanipulasi korban secara emosional.

Peran Platform Digital

Ariani menegaskan bahwa kejahatan child grooming sering kali bermula di dunia maya, kemudian berkembang ke pertemuan langsung. Contoh yang diberikan melibatkan hubungan pacaran, di mana pelaku meminta foto pribadi dengan alasan “kamu kan pacarku, fotoin dong kamu lagi mandi”. Setelah mendapatkan foto, pelaku bisa mengancam menyebarkan rahasia tersebut, bahkan mengarah ke tindakan seksual.

“Contohnya pacarnya minta foto pribadi secara online dengan dalih ‘kamu kan pacarku, fotoin dong kamu lagi mandi’. Kalau sudah dapat fotonya, pelaku mengancam menyebarkan rahasia itu. Ini yang makin meningkat di era digital, atau lama-lama pelaku melakukan kekerasan seksual,” ia menjelaskan.

Kasus ini tidak terbatas pada satu jenis hubungan, karena bisa terjadi antar-anak atau remaja yang saling kenal baik. Menurut Ariani, para orang tua perlu memberikan pemahaman tentang hubungan sehat kepada anak-anak agar mereka tidak mudah terjebak dalam eksploitasi. “Anak juga harus diberikan pemahaman ‘ini kamu berhubungan dengan si A itu gimana, ada manipulasi eksploitasi atau tidak’, hubungannya sehat atau tidak,” kata Ariani.

Lebih lanjut, dia menekankan pentingnya waspada terhadap hubungan dengan teman sebaya yang lebih tua, seperti kakak kelas atau teman online. “Waspada kalau misalnya si anak itu berhubungan dengan kakak kelas atau teman online -nya yang lebih tua itu yang harus kita waspadai,” ia menambahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *