Main Agenda: Anwar Ibrahim bahas penanganan krisis hingga pertemuan dengan Prabowo
Anwar Ibrahim Mengungkapkan Upaya Pemerintah Malaysia dalam Menangani Krisis Timur Tengah
Kuala Lumpur, Sabtu – Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengungkapkan langkah-langkah yang diambil pemerintahnya dalam menghadapi dampak perang di Timur Tengah. Ia juga menjelaskan tentang pertemuan terkini dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Jakarta. Acara ini diadakan dalam Program Madani Rakyat Perak 2026 di Ipoh, Negeri Perak, sebagai respons terhadap kritik yang disampaikan sejumlah pihak.
Penolakan Serangan oleh Israel dan AS
Sejak awal konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, Malaysia secara aktif menentang serangan tersebut, menurut Anwar. “Negara ini merdeka, tidak terikat pada kekuatan asing, dan selalu menolak tindakan agresif yang merugikan negara lain,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah mengajukan mosi di parlemen untuk menyatakan sikap tegas terhadap serangan tersebut.
Kita di sini selalu marah, berteriak, dan membenci, seolah-olah kita punya masalah sendiri, sementara pemerintah berusaha melakukan hal yang benar,” kata Anwar.
Dalam upaya mengatasi tekanan global, pemerintah Malaysia melakukan pertemuan dengan perwakilan perusahaan minyak Petronas, para ahli ekonomi, serta pemimpin negara-negara sahabat. Anwar menyebut bahwa komunikasi melalui telepon dengan pemimpin kawasan Timur Tengah, termasuk Iran dan Turki, terus dilakukan sebagai langkah koordinasi.
Kunjungan ke Jakarta dan Langkah Konservatif
Beberapa waktu lalu, Anwar mengunjungi Jakarta untuk bertemu dengan Prabowo. “Saya harus terbang selama beberapa jam hanya untuk berbicara dengan Beliau,” katanya. “Karena sebelumnya Beliau sudah berkunjung ke sini hingga 4-5 kali. Saya rasa tidak adil jika hanya Beliau yang datang, jadi saya balik mengunjungi,” tambahnya. Penerbangan yang memakan waktu dua setengah jam itu memungkinkan Anwar duduk dan berdiskusi selama dua jam di Istana Kepresidenan.
Karena sebelumnya Beliau datang menemui saya 4-5 kali, saya pikir tidak sesuai jika hanya Beliau yang mengunjungi. Jadi, saya pergi. Penerbangan dua setengah jam, 35 menit ke Istana Kepresidenan, lalu kembali ke Kuala Lumpur,” ujarnya.
Anwar menjelaskan bahwa perang di Timur Tengah telah meningkatkan biaya transportasi kapal di Selat Hormuz, yang berdampak pada ekonomi banyak negara. Pemerintah Malaysia, kata dia, sedang berupaya keras mencari solusi untuk mengurangi tekanan ini. “Saya juga bingung. Apa sebagian dari orang-orang kita tidak membaca? Mereka tidak mengikuti perkembangan dunia, bahkan tidak tahu apa yang terjadi di negara-negara tetangga,” katanya.
Dalam konteks kawasan ASEAN, Anwar menyebut bahwa beberapa negara telah mulai melakukan penjatahan minyak, termasuk menutup 400 stasiun pengisian bahan bakar umum. Pekerja di sekitar kota diperintahkan berjalan kaki ke kantor sebagai bagian dari upaya mengurangi konsumsi bahan bakar. Ia menegaskan bahwa pemerintah Malaysia terus berupaya meminimalkan dampak perang tersebut terhadap masyarakat dan ekonomi negara.