Facing Challenges: Anak-anak Iran Alami Gangguan Psikis Akibat Ketakutan Tiada Akhir Saat Perang

Anak-anak Iran Alami Gangguan Psikis Akibat Ketakutan Tiada Akhir Saat Perang

Durasi konflik yang terus-menerus antara Iran dan pasukan asing telah meninggalkan luka psikologis mendalam pada generasi muda. Lebih dari 20% populasi Iran, sekitar 20,4 juta orang, berada dalam rentang usia anak. Dalam kondisi ini, kecemasan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Kejadian Trauma yang Tak Pernah Berakhir

Ali, seorang remaja 15 tahun—nama samaranya—menceritakan bagaimana ketakutan menghiasi pikirannya. Suasana perang tidak pernah menghilang; bahkan suara bantuan pintu yang tertutup atau peralatan makan yang jatuh kini memicu reaksi tak terduga pada Ali.

“Sebelum perang, saya baik-baik saja, tidak mengalami stres. Tapi sekarang, bahkan suara sekecil apa pun membuat otak saya bereaksi begitu berlebihan,” kata Ali.

Gejala yang dialami Ali dikenal oleh psikolog sebagai hiperarousal, yaitu kondisi di mana tubuh dan pikiran tetap dalam keadaan waspada tinggi secara terus-menerus. Fenomena ini menunjukkan potensi gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang semakin mengkhawatirkan.

Kebutuhan Perlindungan di Tengah Kekacauan

Sementara itu, di Teheran, Aysha—yang nama aslinya disembunyikan—memberikan konseling melalui panggilan telepon kepada seorang ibu yang sedang cemas. “Jika memungkinkan, bermainlah dengannya dan buat dia tetap terhubung. Bahkan jika setelah itu keadaannya tidak membaik, bawa dia kembali ke sini,” ujarnya.

Di tengah ketakutan yang menghantui masyarakat, rezim Iran justru mendorong anak-anak untuk ikut serta dalam operasi perang. Pemerintah menyerukan kepada orang tua agar mengizinkan anak-anak bergabung dengan milisi sukarelawan Basij, salah satu elemen kunci dalam penegakan hukum negara. Tugas mereka adalah menjaga pos pemeriksaan.

Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang berbasis di AS dan mengumpulkan data dari seluruh Iran, total korban tewas mencapai 3.636 orang selama konflik tersebut. Dari jumlah tersebut, setidaknya 254 orang merupakan anak-anak. Sementara itu, puluhan ribu orang mengalami cedera.

Sekelompok orang menyiapkan peti jenazah anak-anak yang tewas akibat serangan AS-Israel ke Iran. Dunia anak-anak di Iran semakin sempit, dengan jalan-jalan dipenuhi patroli milisi dan sekolah-sekolah ditutup. Kondisi ini memaksa keluarga menunggu dan berharap gencatan senjata.

Orang tua menggambarkan bagaimana kekhawatiran terus menggerogoti mereka. “Ibu saya tinggal di rumah, dan setiap kali pesawat tempur terbang di atas, dia ketakutan dan tertekan serta menunjukkan tanda-tanda kecemasan. Saya sendiri juga sangat takut,” tambah Ali.

Ketakutan ini mengubah rutinitas harian. Ali mengaku tidak lagi berhubungan dengan teman-teman. Ia bercerita tentang keinginan untuk belajar, bekerja, dan menjadi mandiri, tetapi sekarang terus-menerus khawatir tentang politik, hidup dalam stres, dan mengenang bom yang jatuh sebagai bayangan tak berujung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *