Key Discussion: 5 Hal yang Jadi Ganjalan Bikin Iran dan AS Gagal Capai Kesepakatan
Perundingan AS-Iran Tidak Mencapai Kesepakatan
Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran tidak berhasil mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik, seperti diungkapkan oleh Wakil Presiden AS, JD Vance. Dalam konferensi pers, Minggu (12/4/2026), ia menyatakan bahwa negosiasi yang berlangsung di Islamabad menghadapi tantangan yang signifikan.
Kegagalan Didasari Kecurangan Syarat
Vance menekankan bahwa Iran menolak syarat-syarat yang ditawarkan AS. “Kami melakukan diskusi serius dengan Iran, tapi belum mendapatkan kesepakatan. Ini buruk bagi Iran, lebih buruk daripada bagi AS,” ujarnya. Meski AS datang dengan sikap fleksibel dan itikad baik, kedua pihak tetap tidak bisa mencapai titik temu.
“Kami meninggalkan ruang negosiasi dengan proposal yang sederhana, yakni penawaran terakhir dan terbaik dari kami. Tunggu saja apakah Iran akan menerimanya,” tambah Vance.
Partisipan dan Tujuan Trump
Presiden AS, Donald Trump, secara langsung terlibat dalam perundingan tersebut. Vance mengakui telah berbicara dengan Trump sebanyak belasan kali selama proses negosiasi yang berlangsung 21 jam. Trump menyebutkan AS menerima proposal 10 butir dari Iran sebagai dasar negosiasi, sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pihaknya menawarkan 15 butir syarat.
Pakistan turut terlibat dalam perundingan. Vance memberikan pujian kepada Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dan pejabat militer, Asim Munir, yang ia anggap bekerja dengan sangat baik meski ada kekurangan dalam proses negosiasi.
Kontroversi dan Tantangan Eksternal
Langkah-langkah yang diambil Iran dan AS tetap dipertanyakan karena adanya serangan Israel terhadap sekutu Iran di Lebanon, Hizbullah. Tindakan ini berpotensi menggagalkan perundingan bahkan sebelum dimulai. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menulis di X bahwa kelanjutan serangan akan membuat perundingan “tanpa makna.”
“Jari-jari kami tetap berada di pelatuk. Iran tidak akan pernah meninggalkan saudara-saudari Lebanon kami,” tegas Pezeshkian.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa tidak ada “gencatan senjata” jika menyangkut Hizbullah. Meski Israel memberi peringatan berulang kepada warga di wilayah selatan Beirut untuk mengungsi, tindakan tersebut belum mendapatkan respons signifikan.
Strategi di Selat Hormuz
Dalam perundingan, salah satu topik utama yang dibahas adalah Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak. Namun, hanya sedikit kapal yang melintasi area tersebut, yang menunjukkan ketegangan di wilayah strategis ini. Selain itu, Iran menekankan kebutuhan untuk menegaskan “pengakhiran total perang” sebagai bagian dari kesepakatan.
Konteks Negosiasi
Sebelum perundingan, ibu kota Pakistan, Islamabad, telah mengumumkan libur dua hari. Delegasi AS, yang dipimpin Vance, tiba dengan disambut oleh pejabat Pakistan termasuk Menteri Luar Negeri Mohammad Ishaq Dar. Delegasi Iran, di bawah pimpinan Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan sejumlah pejabat lainnya.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon akan berlangsung di Washington pekan depan. Trump menyebutkan bahwa tindakan Israel di Lebanon kini “sedikit lebih rendah skalanya” dibandingkan sebelumnya. Apakah langkah ini cukup memuaskan Iran, masih menjadi pertanyaan terbuka.